Kamis, 27 November 2014

Prosa

Old book bindings.jpgProsa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.prosa juga dibagi dalam dua bagian,yaitu prosa lama dan prosa baru,prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat,dan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa.











Jenis-jenis prosa

Prosa biasanya dibagi menjadi empat jenis:
  • Prosa naratif
  • Prosa deskriptif
  • Prosa eksposisi
  • Prosa argumentatif

Prosa lama

Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan, disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke indonesia, masyarakat menjadi akrab dengan tulisan, bentuk tulisan pun mulai banyak dikenal. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sastra indonesia mulai ada. Adapun bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah:

Hikayat

Hikayat, berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib. Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang diceritakan dalam hikayat kadang tidak masuk akal. Namun dalam hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah. Contoh: Hikayat Hang Tuah, Kabayan, si Pitung, Hikayat si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman.

Sejarah

Sejarah (tambo), adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta. Selain berisikan peristiwa sejarah, juga berisikan silsilah raja-raja. Sejarah yang berisikan silsilah raja ini ditulis oleh para sastrawan masyarakat lama. Contoh: Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.

Kisah

Kisah, adalah cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.

Dongeng

Dongeng, adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Dongeng sendiri banyak ragamnya, yaitu sebagai berikut:
  • Fabel, adalah cerita lama yang menokohkan binatang sebagai lambang pengajaran moral (biasa pula disebut sebagai cerita binatang). Contoh: Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau, Hikayat Pelanduk Jenaka, Kancil dengan Lembu, Burung Gagak dan Serigala, Burung bangau dengan Ketam, Siput dan Burung Centawi, dan lain-lain.
  • Mite (mitos), adalah cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib. Contoh: Nyai Roro Kidul, Ki Ageng Selo, Dongeng tentang Gerhana, Dongeng tentang Terjadinya Padi, Harimau Jadi-Jadian, Puntianak, Kelambai, dan lain-lain.
  • Legenda, adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah. Contoh: Legenda Banyuwangi, Tangkuban Perahu, dan lain-lain.
  • Sage, adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang. Contoh: Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, Panji, Smaradahana, dan lain-lain.
  • Parabel, adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh: Kisah Para Nabi, Hikayat Bayan Budiman, Bhagawagita, dan lain-lain.
  • Dongeng jenaka, adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas atau cerdik dan masing-masing dilukiskan secara humor. Contoh: Pak Pandir, Lebai Malang, Pak Belalang, Abu Nawas, dan lain-lain.

Cerita berbingkai

Cerita berbingkai, adalah cerita yang didalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam.

Bentuk-bentuk prosa baru

Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelah mendapat pengaruh sastra atau budaya Barat. Bentuk-bentuk prosa baru adalah sebagai berikut:

Roman

Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala suka dukanya. Dalam roman, pelaku utamanya sering diceritakan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Roman mengungkap adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail dan menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi (pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut.
Berdasarkan kandungan isinya, roman dibedakan atas beberapa macam, antara lain sebagai berikut:
  • Roman transendensi, yang di dalamnya terselip maksud tertentu, atau yang mengandung pandangan hidup yang dapat dipetik oleh pembaca untuk kebaikan. Contoh: Layar Terkembang oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Salah Asuhan oleh Abdul Muis, Darah Muda oleh Adinegoro.
  • Roman sosial adalah roman yang memberikan gambaran tentang keadaan masyarakat. Biasanya yang dilukiskan mengenai keburukan-keburukan masyarakat yang bersangkutan. Contoh: Sengsara Membawa Nikmat oleh Tulis St. Sati, Neraka Dunia oleh Adinegoro.
  • Roman sejarah yaitu roman yang isinya dijalin berdasarkan fakta historis, peristiwa-peristiwa sejarah, atau kehidupan seorang tokoh dalam sejarah. Contoh: Hulubalang Raja oleh Nur St. Iskandar, Tambera oleh Utuy Tatang Sontani, Surapati oleh Abdul Muis.
  • Roman psikologis yaitu roman yang lebih menekankan gambaran kejiwaan yang mendasari segala tindak dan perilaku tokoh utamanya. Contoh: Atheis oleh Achdiat Kartamiharja, Katak Hendak Menjadi Lembu oleh Nur St. Iskandar, Belenggu oleh Armijn Pane.
  • Roman detektif merupakan roman yang isinya berkaitan dengan kriminalitas. Dalam roman ini yang sering menjadi pelaku utamanya seorang agen polisi yang tugasnya membongkar berbagai kasus kejahatan. Contoh: Mencari Pencuri Anak Perawan oleh Suman HS, Percobaan Seria oleh Suman HS, Kasih Tak Terlerai oleh Suman HS.

Novel

Novel berasal dari Italia. yaitu novella ‘berita’. Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik. Konflik atau pergulatan jiwa tersebut mengakibatkan perubahan nasib pelaku. lika roman condong pada idealisme, novel pada realisme. Biasanya novel lebih pendek daripada roman dan lebih panjang dari cerpen. Contoh: Ave Maria oleh Idrus, Keluarga Gerilya oleh Pramoedya Ananta Toer, Perburuan oleh Pramoedya Ananta Toer, Ziarah oleh Iwan Simatupang, Surabaya oleh Idrus.

Cerpen

Cerpen adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, akan tetapi hal itu tidak menyebabkan perubahan nasib pelakunya. Contoh: Radio Masyarakat oleh Rosihan Anwar, Bola Lampu oleh Asrul Sani, Teman Duduk oleh Moh. Kosim, Wajah yang Bembah oleh Trisno Sumarjo, Robohnya Surau Kami oleh A.A. Navis.

Riwayat

Riwayat (biografi), adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa, Prof. Dr. B.J Habibie, Ki Hajar Dewantara.

Kritik

Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yang sifatnya objektif dan menghakimi.

Resensi

Resensi adalah pembicaraan / pertimbangan / ulasan suatu karya (buku, film, drama, dll.). Isinya bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari berbagai aspek seperti tema, alur, perwatakan, dialog, dll, sering juga disertai dengan penilaian dan saran tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca atau dinikmati.

Esai

Esai adalah ulasan / kupasan suatu masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya, seni, fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dll.

Sebuah Cerpen Sastra- Rumah Reyot

13 March 2011 § Leave a comment
Sepertinya terlalu lama aku berteman dengan diam hingga aku selalu membisu. Di ruang sebesar ini, hiruk pikuk terdengar menggelegar. Suara petir dari kejauhan seakan menghantam keras setiap tiang tipis yang berdiri di atap rumah. Menutup telingapun aku tidak sanggup. Hanya bisa membiarkan suara menjalar dalam keheninganku. Dan aku tetap diam.
Bosan? Mungkin ya. Setiap aku bersuara, hanya topeng yang terlihat jelas. Bagaimana bisa aku dikatakannya menuntut? Rumah besar terlihat reyot. Rumah yang dibeli mereka puluhan tahun lalu sebagai rasa cinta, dipecahkan begitu saja. Tua yang kokoh menjadi seperti kepingan pecahan gelas. Terlihat utuh, namun hancur berkeping.
Masih, aku masih diam. Menatap hampa dari tempatku berdiri. Masih, aku berdiri di dalam rumah reyot yang besar dan tua. Masih, terdengar setiap kericuhan yang berteriak-teriak sejak aku terlahirkan. Masih, aku merasakan bertapa menyedihkannya hidupku.
Karena aku diam, aku semakin mendengar. Rutinitas yang sama, celoteh yang tidak bervariasi, omelan yang dipaksakan. Semua tertuju pada mereka yang tinggal di dalam rumah. Sampai detik terakhir musik dimatikan, dia masih seperti nenek sihir yang siap memberikan apel beracun pada keluarganya.
Menyahat hati, menjadikanku sulit melihat cinta yang telah aku kenal sejak kecil. Rumah yang kata mereka dan Dia tempat aku bisa menemukannya, kenyataannya tidak. Lagi, hanya hiruk pikuk.
Diam, sepi. Sekarang tidak ada lagi musik. Bahkan tidak ada lagi teriak nenek sihir itu. Diam, hening. Tentramkah? Semoga.
Aku masih berdiri. Apa yang tersisa? Cinta? Benci? Hanya ada benang tipis yang tidak bisa aku gunting bahkan sampai malaikat menjemput.
Aku tersenyum sejenak, memikirkan kebodohannya, kebencianku, cintanya, dan topengnya, akhirnya menjadi sakitku.
Diam. Semua membacakan doa. Semua memandang pada satu tubuh. Di dalam rumah reyot, yang sepi terdengar suara ramai seucap doa. Air mataku mengalir membasahi pipiku, turun mengenai bibirku. Tidak ada lagi rasa. Hanya ada diam bersamaku.
Terlambat? Tidak ada sesal, tidak ada hari, tidak ada terlambat. Semua sudah pada waktunya. Hanya aku yang tersisa bersama diam tanpa memaafkan. Membuat perjalanan terasa berat. Rumah reyot tidak lagi utuh. Karena satu per satu meninggalkannya. Sejak gelas dipecahkan. Bahkan maafpun tidak sempat bersahabat bersama cinta. Karena diam telah menjadi teman lama dan akhirnya sesal terus menghantui rumah reyot, nomor 7. Mereka belum pergi dan tetap diam. Sedangkan aku? Sama,tetap diam. Karena tubuhku tidak lagi utuh, hanya tersisa debu abu dari tulang yang terbakar.
Namun, sekarang aku bisa mendengar, suara asli nenek sihir penghuni rumah reyot. Seucap doa dan kata maaf di penghujung hariku. Semoga belum terlambat.

Rabu, 19 November 2014

Penilaian sebuah puisi berawal dari interpretasi. Interpretasi tentang keindahan dari satu puisi. Karena indah itu sangat subjektif sifatnya, maka para ahli merasa perlu menentukan yang disebut puisi indah itu apa.
 Walaupun pada kenyataannya ketentuan itu kembali menjadi bermacam-macam bergantung pada paradigma keilmuan dan perspektif para ilmuan yang menentukannya.
Puisi bisa dinilai bergantung pada kepentingan apa kita ‘membaca’ puisi tersebut.
 Apakah penilaian bagian dari kritikan atau apresiasi? Dua-duanya bisa dipakai bergantung dari perspektif mana kita melihat. Penilaian pada sebuah puisi dianggap bagian dari kritikan adalah ya.
 Kritikan tertinggi.
 Sehingga pembaca mampu menentukan puisi yang ‘baik’, ‘bermutu’ itu seperti apa. 
Penilaian sebuah puisi dianggap dari apresiasi adalah juga ya. Menghargai puisi (karya seni) dengan tingkat tinggi adalah dengan menilai.
Karena dari perspektif kritik dan apresiasi bermuara pada evaluasi, maka kemudian berkembanglah perangkat penilaiannya. 

Bermacam-macam aliran dan alat ukur ditawarkan para ahli (baik praktisi maupun akademisi). Terutama di Barat, kriteria penilaian karya sastra begitu beragam. Kalau para penyair konvesional menyebut keberhasilan puisi cukup dengan membuat kita tertegun dan terkagum-kagum, itu tidak salah, tetapi tidak bisa diuraikan bentuk ketertegunan dan keterkaguman itu. Nah, para ahli dari barat mensistematikakan penilaian tersebut dengan kritreria-kriteria karya seni (walaupun sebenarnya sangat-sangat terpengaruh filsafat positivistik; ideologi materi yang secara umum diterapkan pada ilmu matematika dan pengetahuan alam; sain).
 

Penilaian estetik adalah menilai karya puisi dari struktur estetik, yaitu semua usaha yang terlihat susunannya dalam puisi: rima, irama, diksi, gaya bahasa, alur, konflik, humor, termasuk juga kebaruan dan kemampuan yang membuat orang terpesona. (Nah, penilaian para penyair atau pembaca konvensional masih sebatas ini ternyata).
Penilaian ekstra estetik adalah penilaian dari bahan-bahan karya puisi, yaitu: pemilihan kata-kata; bahasa, tingkah laku manusia, gagasan, sikap (di antaranya spontanitas), intension (niat) dan apapun yang sebelumnya berada di luar karya puisi itu sendiri. Dalam puisi yang berhasil, bahan-bahan tersebut terjalin dalam hubungan-hubungan yang bermacam-macam oleh dinamika-dinamika tujuan estetik.

Sebuah karya sastra yang bernilai tinggi, selain berdasarkan pada susunan yang terlihat (estetik) juga berbahankan pada bahan-bahan yang besar. Kebesarannya (agung) adalah bila puisi tersebut mengekspresikan nilai yang besar. Nilai-nilai kehidupan yang besar itu diantaranya meliputi pikiran-pikiran yang tinggi atau cemerlang, perwatakan yang kompleks, cerita yang hebat, dan menawarkan renungan (kontemplasi).
Dengan demikian, sebuah puisi yang bernilai sastra (tinggi) adalah sebuah karya yang indah dan mengandung kreativitas (estetik), juga memuat pikiran-pikiran tinggi dan gambaran-gambaran kehidupan yang mempesonakan (ekstra estetik).
Dengan demikian pula, kita tidak bisa menafikan puisi tersebut dengan menyebut ‘tidak bermutu’, ‘tidak bernilai’, ‘tidak bernilai sastra’ dan semacamnya bila kehilangan salah satu unsur kecil dari bagian unsur besar (estetik & ekstra estetik) –karena tidak ada zat yang sempurna kecuali pembuat manusia! Jika tidak ada salah satu dari keduanya (estetik atau ekstra estetik tidak ada), penilai boleh menyebut bahwa puisi tersebut ‘kurang bernilai atau kurang bernilai sastra’ bahkan ‘tidak bagus’.

Uraian di atas adalah melihat penilaian puisi dari keobjektivan karya. Dalam kenyataannya menilai puisi juga bisa bergantung pada penilai. Mampu tidaknya penilai menghadirkan jarak dirinya dari karya dan penyairnya, atau menekan seminimal mungkin praduga negatif yang memenuhi pikirannya dalam menilai puisi menjadi sesuatu yang penting dikritisi.
Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa soal keindahan adalah soal subjektif yang sesuai dengan selera, penghayatan, dan pengalaman pembaca kritis (penilai). Apalagi bila dibebani dengan kepentingan-kepentingan lain, definisi keindahan yang seharusnya diterapkan seobjektif mungkin menjadi bias. Apalagi dengan ditambah kesan yang salah akan membentuk opini pembaca lain terhadap puisi tersebut.
Lalu, jika penilai menyebut ada puisi yang kehilangan ‘spontanitas’. Apakah itu?
Spontanitas dalam KBBI adalah: 1) kesertamertaan dan 2) perbuatan yang wajar, bebas dari pengaruh orang lain dan tanpa pamrih. Nah, spontanitas yang disebut penilai ini harus dijelaskan. Spontanitas yang pertama merujuk pada unsur estetik (hal-hal yang bisa dilihat dari puisi), sedangkan spontanitas yang kedua merujuk pada unsur ekstra estetik (khususnya: sikap penyair).
Jika penilai merujuk spontanitas yang pertama, harus dijelaskan apa dan bagaimana sehingga puisi tersebut disebut kehilangan kesertamertaannya? Bukannya puisi adalah spontanitas kata-kata yang meluncur seketika ketika rasa sudah memuncak (intens). Mana mungkin rasa yang keluar dengan dilandasi kejujuran terhadap apa yang dirasakannya dapat berbohong?
Jikapun penilai merujuk spontanitas yang kedua, tidak wajar? Tidak pamrih? dan sebagainya, harus dijelaskan ketidakwajarannya. Kalau ketidakwajarannya dalam gaya bahasa misalnya, bukankah hiperbola adalah sarana ungkap yang dibutuhkan secara wajar oleh penyair untuk mewadahi tujuan puisinya? Dan bagaimana bisa menyebut tidak wajar pada sikap penyair bila ada kedekatan jarak yang tidak diminimalisir atau tepatnya subjektivitas yang besar yang menempatkan posisi penyair menjadi inferior? Padahal penyair dalam mengekspresikan gagasannya tanpamrih atau tulus dan jujur dan integritasnya bisa dipertanggungjawabkan.
Apakah ini tidak berlebihan bahkan bisa dianggap praduga penilai yang menyesatkan dan menjatuhkan?

Dari uraian panjang di atas, ditarik kesimpulan bahwa:
1) puisi adalah karya sastra yang merupakan karya seni yang bisa dinilai dengan kriteria objektif –walaupun tidak ada norma keindahan yang objektif. Objektif di sini maksudnya berpegang pada teori atau kriteria tertentu dengan definisi yang jelas,
2) menilai puisi adalah menilai karya seni yang melandaskan penilaiannya pada unsur estetik dan ekstra estetik (hal-hal yang tersusun; terlihat; terbaca oleh pembaca dan bahan-bahan puisi; yang tidak terlihat dan kemudian diwujudkan melalui interpretasi pembaca/penilai),
3) sikap penilai yang harus bersikap objektif –meminimalisir subjektivitasnya selaku penilai dan menjelaskan maksudnya dengan tidak taksa (ambigu) kepada pembaca lainnya sebagai bentuk tanggung jawab keahliannya menilai.
Selain itu, disarankan:
1) Penilai atau pembaca ahli berpegang pada definisi-definisi yang bisa dipertanggungjawabkan karena menilai berarti memberikan pengetahuan baru yang wajar dan jujur pada pembaca, karena boleh jadi penilai dianggap ahli yang dirujuk pernyataannya oleh pemaca awam.
2) Penilai atau pembaca ahli sepatutnya memperlihatkan hal-hal yang memperlihatkan keseimbangan integritas dalam menilai (menguraikan kelebihan-kelebihan selain menjelaskan kelemahan-kelemahan puisi atau karya).

Buku : Tanah Ilalang di Kaki Langit karya Rini Intama

Tinggalkan komentar
NEGERI ini punya tanah yang bisa bercerita soal sejarah
NEGERI ini ada banyak budaya yang bisa bercerita bagaimana kita punya asa dan menjaga
NEGERI ini punya Alam yang bisa bercerita bagaimana Alam terus menjaga mimpinya
Tanah Ilalang di kaki langit,  Penulis : Rini Intama
Tata letak /sampul : Diandracreative design, Penerbit : Pustaka Senja
Cetakan pertama : Juli 2014,  Jogyakarta Diandra Creative 2014
halaman  :  107 hal, kertas :  bookpaper 14 x 20 cm
ISBN  : 978-602-1638-35-4
Dicetak oleh :  Diandra creative offset dan printing, Hak Cipta di lindungi oleh Undang-undang
Harga Rp. 30.000,-  (belum termasuk ongkir)
pemesanan hanya melalui, inbox Facebook  : Rini Intama, sms  081389192708, Twitter : rini_intama
bukuTanahku
Puisi-puisi Rini Intama dalam buku “Tanah Ilalang di Kaki Langit” ini terdiri dari tujuh subjudul, yang menyiratkan kepedulian sang penyair terhadap berbagai permasalahan yang ia jumpai dalam kehidupan. Nampaknya penyair adalah seorang pengamat, ‘pembaca’, dan penulis yang tak pernah melewatkan moment untuk berkontemplasi. Dalam banyak puisinya, ia mengangkat tempat-tempat bersejarah dan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi, bahkan beberapa di antaranya disertakan penjelasan tentang tempat/peristiwa yang dipuisikan. Menjadi sedemikian elok, karena dalam beberapa puisinya, ia tidak sekedar mendeskripsikan yang diamati, tetapi lebih jauh mengekspresikan juga perasaan-perasaannya, sehingga puisi yang tercipta menjadi sedemikian menyentuh, seperti yang berikut ini :
A Yin terus menulis kisah Cina Benteng / di atas batu juga tanah ini dan pada kelopak mawar yang menyimpan embun / entah berapa langit / dan perjalanan sejarah yang menyimpan ribuan kisah sunyi / di ladang, di lembaran-lembaran sajak, di tiang-tiang dan benteng kota / hingga tanah gocap dan nisan-nisan diam yang terbelah // A Yin terus menunggu pijar-pijar kembang api/ lalu katanya, / aku masih membuat kue-kue keranjang dan secangkir teh hangat //
Membaca penggalan puisi berjudul “A Yin “ di atas, perasaan pembaca ikut ‘diharu-biru’ oleh kesetiaan dan ketabahan karakter A Yin dalam mempertahankan tanah kelahiran dan adat-istiadat Cina di tengah perkembangan zaman.
Tema-tema yang diangkat dalam buku ini merupakan tema umum yang sering digarap oleh para penyair lain, misalnya tentang cinta, tentang tanah air, persoalan perempuan, permenungan tentang hakikat hidup, dan tentang berbagai peristiwa. Meskipun mengangkat tema umum, di tangan Rini, puisi-puisi yang dilahirkan menjadi sedemikian hidup. Kemahiran Rini mengolah kata dan kalimat memudahkan pembaca mengembangkan imajinasi, bahkan serasa diseret ke dalam suasana batin yang dihadirkan. Pada puisi “Nyanyian Alam”, penyair berhasil mengetengahkan suasana indah melalui diksi yang tepat, sekaligus membawa pembaca masuk dalam permenungan tentang kehidupan manusia yang satu sama lain saling membutuhkan dan saling harga-menghargai. //Manusia saling mengajari dan mencintai// Gunung, lembah, sungai, saling menjaga mimpi//
Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki Rini dalam mengolah pemikiran dan perasaan menjadi puisi yang bermakna, saya yakin, buku ini layak mendapat tempat di hati pembaca serta bermanfaat bagi khazanah sastra Indonesia.
(Dhenok Kristianti, Guru & Penyair, tinggal di Denpasar )
Di sini tampak begitu jelas bahwa penulis adalah bagian keseriusan dari setiap alur nafas puisi-puisi yang dihanyutkan pada sungai-sungai kreatifitasnya, puisi dengan konsep pembagian tema demi tema; sejarah maka sejarahlah ia, perjalanan maka perjalananlah ia, waktu maka waktulah ia, negeri maka negerilah ia, cinta maka cintalah ia, perempuan maka perempuanlah ia, dan kisah demi kisah pun mengalir sebagaimana perahu-perahu puisi atas riak-riaknya; puisi-puisi dalam kumpulan ini menukik tajam, misalnya terbaca: … hingga kesaksian sejarah yang tertulis dalam kertas-kertas rapuh dan membusuk (Tanah Ilalang di Kaki Langit), pelayaran puisi-puisi sebagai buah manis lembut bergelora dari jemari lentik, seperti : … mengantarkan perahu berlayar dalam sahajanya dengan ribuan dayung dan nyanyian laut para pujangga (I La Galigo), mengalirlah ia seterusnya dalam ruang pembacaan kita, salam gumam asa (Ali Syamsudin Arsi, penyair, penulis, penggiat sastra, Pembina sanggar sastra Satu satu, ketua Forum Taman Hati, tinggal di Banjar baru – Kalimantan Selatan)
Satu-satunya kesalahan adalah dia bernama Rini Intama, punya hati punya rasa dan setia pada nurani. Ketika kemudian ia diperjalankan oleh takdir hidupnya dari satu peristiwa ke peristiwa, maka lahirlah yang namanya simpati, empati, keprihatinan, kegelisahan, juga pemberontakan. Dengan penuh cinta lalu ia lantunkan nyanyian jiwanya dengan santun melalui keindahan kata. membaca puisi Rini, akan terasa hidup ini indah.
Perempuan itu menulis puisi, menebar cinta lewat kata. dengan hati. Semua ia untai dalam estetika kata dan makna, dengan gayanya yang santun, yang membuat imagi terayun-ayun. perempuan itu menulis puisi, menebar cinta lewat kata. ( Abah Yoyok – penulis, penikmat dan penggiat sastra, pemilik sebuah Taman bacaan )

“Kegelisahan itu bernama Puisi. Begitulah Rini Intama mengolah batinnya, dia sengaja melakukan perjalanan untuk menemukan puisi itu sendiri, hingga di tubuhnya, puisi itu menjadi mata, tangan, kaki dan hatinya. Tidak bisa dipungkiri, kita menjadi getir setelah membacanya, seolah apa yang dipuisikan Rini Intama adalah hidup dalam kematian, begitu juga sebaliknya.” (Nana Sastrawan – Pendidik, penggiat sastra, penulis )

Kamis, 13 November 2014

''kumpulan puisi dan pengertain tentang anekdot


ANEKDOT  merupakan sebuah ungkapan atau kata kata yang lucu atau sindiran mengenai sesuatu ,teks anekdot benar adanya karna teks ini berisi bukan sebatas lucu atau menyindir tetapi sangaahan kepada orang lain agar mereka menjadi paham apa yang dimangsud dengan menubah tata bahasa yang menarik{tidak selalu lucu} .

 

berikut merupakan puisi yang diubahkedalam anekdot.

puisi anekdot yang saya kaji disini ialah berupa sindiran kepada orang lain dengan mangsud agar orang tersebut merasa dirinya salah,ataupun bebuat yang tidak baik, berikut merupakan teks yang tergolong anekdot .


puisi 1

''wujud dari anak manusia''

melontar aku berlari 

menyusuri lorong waktu tanpa pintu

gundakan batu gundah klana, 

memandangi diriku penuh peona

lalu sang asembari berkata "inilah wujud dari anak manusia"

kucampakan harga diriku demi memuaskan nafsu serakah

berpundak pundak harta

berlimpah limpah kekayaan 

ia jadikan sebagai pengatar tidur dongeng semata.

 

mangud dari puisi diatas ialah seorang wanita yang dilema oleh kehidupan ia hidup untuk mengidupi eluarganya walau hanya menjadi kupu kupu malam, ia tak tau mengapa para pria serakah selalu memanfaatkan wanita yang tak berdosa .

 

puisi 2

" indonesia baru"

lihatlah 69 tahun lalu

disaat nama "indonesia"ini masih terombang ambing

bukan untuk mencari penghargaan dari bangsa lain

tapi mencari jati diri suatu negeri

lambat laun masa revolusi berganti berbai kata orang peminpin negeri tak ada perubahan yang terjadi

lihat pula 69 tahun kemudian

begitu banyak slogan diantara peminpin negeri

yang mengatas namakan kepentingan rakyat

adakah satu sesosok peminpin negeri 

yang mengabdikan diri untuk negeri

menhapus gelombang kebanjiran yang meregut jiwa dan raga

atau meletakan 1 kaki dipenjara dan  kaki dineraka untuk para penahasut negeri dalam korupsi.

 

mangsud dari puisi tersebut ialah  peminpin neeri yang selalu berjanji bervisi misi tetapi itu hanya sebagai slogan, bukan sebagai pahlawan yang mengabdi diri kepada negeri ini.

 

 ANALISIS PUISI 

''SEBUAH SAJAK YANG KUTULIS UNTUK PERNYATAAN CINTAMU PADAKU''

 

unsur pendukung isi

  • judul

    diksi

    imajinasi

    lambang/kias

    tema

     

    unsur penunjang bentuk

    • firgur bahasa{majas}

      bunyi/suara

      irama

       

      unsur pembentuk puisi diatas:

      tema: pelampiasaan

      isi    : seseorang yang menyatakan cinta hanya sebagai permainanyang diungkapan tidak dengan hatinya,dimana ia gampang katakan cintalalu mudah puladia menyudahinya,orang tersebut menyatakan kesendirian yang meladnagnya ,pasanganya hanya dijadikan boneka yang bisa di permainkan tapa arti apapun dalam hatinya

      amanat:jangan memaafkan orang lain untuk mejadi pelampiasan kita semata.karena hanya dapat menyakini orang lain ,kalau kita memang cinta cintailah pasangan kita dengan tulus .karena itu membuat pasangan kita ataupun kita sendiri merasakan kebahagian yang didaat dari ketenagan hati.

       bahasa:bahasa yang digunakan adalah bahaa campuran namun masih mempertahankan niali estetika

      iamajinasi:ide perasaan benar benar enulis menuangkan kedalam setiap inci bait sehingga dengan membacanya pun kita seperti terhanyut dalam kesedihan yang ia alami/rasakan .

       

      komentar saya mengenai puisi tersebut;puisi tersebut sangat baik ,secara keseluruhan penulis sangat memperhatikan nilai atau curahan hati penulis yang ingin ia sampaikan ,dan saya sangat mengpriasikan,akan tetapi diksi atau majas yang digunakan masih bersifat umum atau belum terlalu berat sehimgga kurang cocok dikarnakan pemilihan kata yang sederhana.tetapi secara bahasa imajinasi tema amanat yang terkandung didalam nya sangat baik dan bermanfaat.


ANALISIS SEBUAH PUISI
''sebuah sajak yang kutulis untuk pernyataan cintamu padaku''


katakan kepadaku
apalah arti pernyataan cinta
yang tapi kau sampaikan tanpa perassaan mencintai
apalah arti perasaan mencintai
yang tapi kau ungkapkan tanpa kesedihan mencintai
apalah arti kesedian mencintai
yang tapi kau terakan tanpa kesadaran mencintai
apalah arti kau gulirkan tanpa gairah mencintai
apalah arti gairah mencintai
yang tapi buru buru kau sudahi

 kenangan atas pernyataan cintamu padaku
mejadi arang
yang menghubunganku 
dengan deret pengembaraan badanmu
terhadap tubuhku
sementara dirimu entah kau taruh dimana
dan hatimu entah kau lacikan di almari siapa

mengapa engkau mencintaiku
seperti entah siapa yang bertanya pada belasaan entah siapa 
soal nama jalan dan nomor dari sebuah rumah
yang ketika kausua telah mengelupas
semua cat temboknya?
 
mengapa engkau mencintaiku
seoalah kerana aku ni migrain
yang mengeram dibatok kepalamu
atau bahwa kerana aku inni seseg
yang menyumpsl rongga dadaku
sembari tak henti henti 
mendesakdesak degab jantungmu
yang mestinya sungai mengalir sungai dalam diri 

mengapa engkau mencintaiku
kerana ternyata sekedar
hanya lantaran kamu tak berdaya melawan kesepianmu
dan itulah sabab mengapa bagi dirimu
aku ini cuma sesuatu
yang menyerumpai semacam alat masturbasi yang rusak
yang tapi engkau enggan membuangnya

aku tak tau
kerana kamu menlanjur menjelma asmara bagiku