Kamis, 12 Maret 2015


Contoh-contoh Teater Tradisional dan Modern
. - Pada waktu itu saya sempat memposting tentang Tokoh Terkenal Seniman Tari Indonesia . Sekarang saya akan sedikit memberikan contoh dari teater tradisional dan teater moder . Lalu apa itu teater . Teater adalah istilah lain dari drama, tetapi dalam pengertiannya yang lebih luas, teater adalah proses pemilihan teks atau naskah, penafiran, penggarapan, penyajian atau pementasan dan proses pemahaman atau penikmatan dari public atau audience (bisa pembaca, pendengar, penonton, pengamat, kritikus atau peneliti) . Teater di artikan dalam 2 arti dalam arti luas dan arti sempit
Teater dalam arti sempit = Sebagai drama ( Kisah hidup atau kehidupan manusia yang di ceritakan melalui pertunjukkan pentas ).
Teater dalam arti luas = Segala tontonan atau pertunjukkan yang di pertunjukkan di hadapan orang orang banyak .
Adapun unsur-unsur dalam teater meliputi :
1. Naskah atau Skenario
berisi kisah dengan nama tokoh dan dialog yang diucapkan dalam cerita tersebut .
2. Pemeran
3. Sutradara
Seseorang yang menjalankan atau memimpin jalanya produksi teater .
4. Properti
Sebuah perlengkapan yang di perlukan dalam pementasan teater . Seperti halnya meja,kursi dll.
5. Penataan
dalam unsur penataan ,penataan di bagi dalam 4 penataan antara lain tata rias , tata busana , tata lampu , tata suara .
baik kita ke Topik , saya akan memberikan contoh teater tradisional terlebih dahulu apa saja itu , simak di bawah ini :
1. Ketoprak
ketoprak merupakan seni teater yang di perkenalkan dari yogyakarta jawa tengah . Jenis teater yang ini adalah pentasan yang di selingi dengan lagu-lagu jawa dan di iringi dengan gamelan .
2. Ludruk
Kesenian yang berasal dari jawa timur . Ludruk merupakan suatu pertunjukkan yang oleh sebuah group kesenian dan dalam pertunjukkanya ludruk menceritakan tentang kehidupan rakyat ,cerita perjuangan yang di selingi dengan lawakan dan gamelan sebagai pengiringnya .
3. Wayang orang
cerita wayang purwo( wayang kulit) yang di panggungkan dengan pemeran orang dewasa yang di padukan dengan gerakan tari . Adapun sumber ceritanya dari Ramayana dan Mahabarata .
4. Reog
Seni tradisional dari jawa timur yaitu ponorogo , dalam seni reog ini , pementasan di lakukan atau di pertunjukkan di arena terbuka . Pemeran utamanya adalah orang berkepala singa dengan hiasan bulu merak . Dan di tambah penari bertopeng(pentholan) dan juga penari kuda lumping .
5. Lenong
Kesenian yang berasal dari orang betawi atau jakarta ini mempertunjukkan sandiwara dengan iringan gambang kromong dan menggunakan dialog betawi . Yang utama dari bagian lenong adalah silat ,tarian dan lawak .
6. Sendratari(Seni drama dan tari)
Kesenian yang bercerita tentang cerita wayang dan cerita legenda . Namun dalam pementasan ini hanya di sajikan dalam bentuk tarian tanpa adanya sebuah dialog . Dan di sini gamelan juga sebagai pengiring musiknya .
Di atas adalah contoh dari teater tradisional di negeri kita . Berikutnya kita ke teater modern . Teater modern merupakan pengaruh dari budaya asing . Hal ini merupakan alkulturasi ( pencampuran) budaya indonesia dan budaya asing yang berbeda sifatnya dengan budaya asli dari indonesia . Dan di bawah ini adalah conthoh dari teater modern :
1. Komedi stambul
disebut sebagai komedi stambul di karenakan ceritanya mengenai kejadian-kejadian di stambul dan konstaninopel , persia , arab , dan india . Cerita ceritanya di ambil dari kisah 1001 malam .
2. Komedi bangsawan
disebut komedi bangsawan karena ceritanya mengenai bangsawan yang berasal dari tana semenajung atau negeri jiran

Senin, 02 Maret 2015

Misteri Bangku Kereta Api Nomor 13

  

Perjalanan jauh dengan kereta merupakan sebuah perjalanan yang penuh dengan petualangan. Banyak hal yang bisa kita dapat dari perjalanan jauh ini. Seperti halnya kisah perjalananku selama dua hari satu malam dengan Kereta Bima, Jakarta-Surabaya. Perjalanan kali ini, seperti halnya perjalana-perjalanan sebelumnya, tak pernah kusia-siakan hanya dengan melihat-lihat pemandangan lewat jendela ataupun tertidur sepenjang perjalanan. Ada suatu hal yang biasa kulakukan untuk mengisi perjalanan dengan kereta api yaitu dengan “mengobrol”. Mengobrol merupakan cara yang ampuh untuk mengusir rasa bosan dan juga baik untuk kesehatan terutama otot-otot muka guna menjaga keremajaan kulit dan elastisitasnya. Mengobrol hanya membutuhkan sedikit energi dengan sedikit cemilan dan sebotol softdrink lengkap sudah fasilitas untuk memulai suatu obrolan.
Sudah tiga puluh menit berlalu semenjak aku terduduk sendiri di bangku nomor 14 gerbong ketiga. Kulihat bangku nomor 15 yang terletak disebelahku belum juga terisi penumpang dan juga bangku nomor 13 dan 12 yang terletak di hadapanku kosong sama sekali. “Kalo begini gimana aku bisa dapat teman ngobrol?”.
“Ting…teng…ting…teng…lima menit lagi Kereta Bima akan segera diberangkatkan”, begitu bunyi pengumuman dan petugas stasiun. Kereta mulai penuh oleh para penumpang. Semua bangku telah terisi kecuali tiga buah bangku yang ada di dekatku, tak juga ada yang menempati. Sudah empat puluh menit aku menunggu teman seperjalananku, namun mungkin takdir berkata lain. Di perjalanan kereta kali ini, mungkin akan kulewatkan dengan tidur atau melihat-lihat pemandangan saja.
“Huaaaah…!!”, suasana ini membuatku mengantuk, mataku mulai berkaca-kaca. Tak terasa aku pun terlelap untuk beberapa waktu. “Roooeng…!!!”, “Hah, bunyi apa itu…?”, aku tersentak, dan bangun dari tidurku. Oh rupanya bunyi yang melengking itu hanyalah bunyi pertanda kereta akan segera diberangkatkan. Kereta pun mulai berangkat. “Huaaah…!!”, lagi-lagi meliuk-liukkan tubuhku, mencoba melemaskan semua otot-otot yang tadi kaku karena kugunakan tidur dalam keadaan duduk. Kini ngantukku serasa hilang dalam sekejap oleh getaran-getaran berirama yang ditimbulkan oleh roda-roda kereta. Kuperhatikan sekelilingku, nampaknya bangku nomor 12 dan 13 yang ada dihadapanku serta bangku nomor 15 yang terletak di sampingku memang tak ada yang menempatinya. Atau memang tak ada yang mau mendudukinya? Ah masa bodoh…
Tiba-tiba seorang wanita muda dengan tergesa-gesa berjalan sambil menyeret sebuah koper yang tampaknya cukup berat menuju ke arahku. Dia tampaknya butuh pertolongan. Pak kondektur pun menghampirinya. “Anda butuh pertolongan Nyonya?”, tegurnya dengan sopan. “Iya Pak, tolong saya Pak!”, ujar nyonya itu dengan nada setengah panik. “Maaf nyonya, bisa tolong tunjukkan tiket anda?”, ujar sang kondektur. “Ini pak, saya duduk di bangku nomor 13”, jawabnya dengan nafas terengah-engah. “Oh bangku nomor 13 ada di sebelah sini nyonya. Silahkan, anda bisa duduk dan tenangkan diri anda terlebih dahulu”, ujarku memotong pembicaraan mereka.
“Pak kondektur..anak saya pak…anak saya hilang di kereta ini”, ujar nyonya itu yang tampaknya tak menghiraukan perkataanku.
Pak kondektur pun berkata lagi pada nyonya itu dengan lembut “Nyonya, anda bisa duduk dulu di bangku dan ceritakan semua kejadiannya pada kami.”
Mendengar hal itu kemudian si nyonya pun akhirnya duduk dan kemudian mulai mencoba menenangkan diri. Setelah merasa cukup tenang ia pun bercerita “Begini Pak Kondektur, aku naik ke kereta ini bersama anak laki-lakiku yang bernama Andi. Ketika kami tiba di stasiun, kereta hampir saja berangkat. Karena takut ketinggalan kereta aku pun menaikkan Andi terlebih dahulu kemudian aku turun lagi untuk membawa koper yang kutitipkan pada seorang penjual makanan yang menunggu di depan pintu masuk gerbong lima kereta ini. Sementara itu Andi ku suruh mencari tempat duduk nomor 13 dan 14 yang telah kami pesan. Saat itu para penumpang masuk secara berdesakkan, mungkin mereka juga tak ingin ketinggalan kereta. Bahkan ketika aku ingin masuk, hampir saja aku terdorong keluar oleh penumpang lain yang juga turut berdesak-desakkan. Dan sesampainya di dalam kereta aku mencari-cari Andi dan tidak menemukannya.”
“Oh begitu”, ujar kondektur manggut-manggut. “Ehm begini saja nyonya. Sekarang saya akan mencari anak nyonya dan nyonya silahkan tunggu di sini. Oh ya apakah nyonya yakin kalau anak nyonya sudah masuk ke dalam kereta ini?”, Tanya pak kondektur.
“Saya yakin pak. Anak saya tak mungkin keluar lagi, karena ketika kami masuk, para penumpang yang lain juga masuk bahkan hingga berdesak-desakkan sehingga tak mungkin ia bisa keluar.”, jelas nyonya itu.
“Oh ya, bagaimana ciri-ciri anak nyonya?”
“Hmm…anak saya memakai baju kemeja warna biru laut dan celana pendek warna hitam. Umurnya 10 tahun dan tingginya sekitar 150 cm. Ia berkaca mata dan rambutnya hitam lurus.”, jawab nyonya itu.
“Ya…cukup jelas, kami pasti menemukannya”, ujar sang kondektur meyakinkan nyonya itu.
Lima menit telah berlalu, namun si kondektur tadi tak juga kembali. Nyonya itu nampak masih gelisah sejak tadi, wajahnya memerah dipenuhi sejuta penyesalan.
“Maaf nyonya, mau permen?”, ujarku seraya menyodorkan lima bungkus permen cokelat yang tadi kubeli dari pedagang kaki lima.
“Hmm maaf…terima kasih”, ujarnya menolak.
“Tenang saja nyonya, tak perlu terlalu gelisah. Anak nyonya pasti ditemukan, mungkin saja dia tadi bingung dan tersesat di gerbong lain. Kereta ini kan hanya terdiri dari beberapa gerbong dan anak nyonya tak mungkin akan jauh-jauh pula dari sini’, ujarku mencoba menenangkannya.
“Oh ya, tujuan nyonya mau kemana?”
“Hmm….saya mau ke Surabaya, ke rumah kakak ipar saya untuk mengabarkan suatu hal”, jawab nyonya itu.
“Lalu suami anda…?”
“Dia baru saja wafat tiga hari yang lalu”
“Oh maaf nyonya…ehm saya turut berduka cita atas wafatnya suami nyonya.”
Waktu pun telah berlalu dua jam lamanya. Hari kini mulai beranjak sore, kereta api delapan gerbong yang kini kunaiki mulai menembus senja. Obrolanku dengan nyonya ini semakin menarik saja, dan nampaknya si nyonya mulai melupakan anaknya yang belum juga ditemukan.
Saat ini aku mulai tahu banyak tentang nyonya itu. Ternyata yang duduk di bangku nomor 12 adalah anaknya dan yang duduk di bangku nomor 15 yang ada disebelahku adalah suaminya yang kini telah wafat semenjak tiga hari yang lalu. Suaminya adalah seorang polisi lokal. Ia wafat karena tertembak ketika terjadi baku tembak dengan para perampok bank tiga hari yang lalu. Semula mereka bertiga memang hendak liburan ke rumah Nenek anak semata wayangnya di Surabaya. Kematian sang Ayah pada mulanya membuat rencana kepergian Si Nyonya dibatalkan. Namun karena si Nyonya kemudian mendapat kabar bahwa ibundanya di kampung halaman sedang sakit keras, dan dengan pertimbangan tiket yang sudah dipesan, jadilah mereka berdua memaksakan diri pergi ke Surabaya meskipun masih dalam suasana duka.
“Maaf nyonya apa makanan favoritmu?”, tanyaku.
“Hm…aku amat menyukai cokelat, suamiku dan anakku juga menyukainya. Cokelat sudah lama menjadi makanan favorit keluarga kami.”, jawabnya. “Kalau anda Tuan?”
“Hmm…aku juga suka cokelat, tapi terkadang aku juga suka permen dan juga kembang gula. Pokoknya semua makanan yang manis-manis aku menyukainya.”, jawabku.
Tiba-tiba si nyonya itu mengeluarkan sebuah kotak dari tas kecil yang diipangkunya. Dan ia membuka kotak itu. Ternyata isinya adalah cokelat.
“Anda mau cokelat, Tuan?”, ujarnya seraya menyodorkan kotak itu ke arahku.
Aku pun mengambil tiga bungkus cokelat dari kotak itu. “Hmm…terima kasih nyonya.”, ucapku seraya menaruh dua bungkus cokelat ke dalam saku kemejaku. Sementara yang sebungkus lagi kubuka dan kumasukkan ke dalam mulutku.
“Bagaimana rasanya, Tuan?”, Tanya nyonya itu.
“Hmm…sangat enak.”, jaawabku.
Nyonya itu cukup menarik untuk dijadikan teman ngobrol. Setelah sekian lama mengobrol tampaknya aku mulai suka padanya. Wanita itu lumayan cantik, wajahnya sangat ayu dengan bibirnya yang manis. Matanya juga indah. Rambutnya tergerai lurus sepinggang. Lama-lama aku merasa tertarik kepadanya. Hatiku mulai bertanya-tanya “Apakah aku telah jatuh cinta?’
Dalam sekejap kami menjadi lebih akrab. Rupanya si nyonya itu juga suka mengobrol sepertiku. Kami pun melanjutkan obrolan kami hingga lupa waktu.
Sejam kemudian. Pak kondektur datang mengantarkan seorang anak berambut lurus dan berkaca mata. “Oh anakku!”, si nyonya sejenak tersentak melihat anaknya, lalu memeluknya sambil menetesakan air mata. Ia baru ingat bahwa anaknya telah hilang di kereta beberapa jam yang lalu. Dengan perasaan bersalah ia pun memeluk anaknya erat-erat sambil menangis.
Aku dan pak kondektur hanya bisa memandang kedua anak dan ibu itu sambil tersenyum lega. Setelah itu si nyonya itu pun kemudian berterima kasih kepada pak kondektur.
“Maaf nyonya kami terlalu lama menemukan anak anda. Tampaknya anak anda tersesat di kereta ini dan kelelahan, lalu ia pun tertidur di dekat tumpukkan barang di pojok gerbong delapan. Tadinya kami tak mengira anak itu bersembunyi di sana. Namun, setelah kami berpikir bahwa tak ada salahnya memeriksa tumpukkan barang kami pun memeriksanya dan berhasil menemukan anak nyonya ini.”, jelas pak kondektur.
‘Tak apa-apa pak kondektur, yang penting saat ini anakku sudah di temukan. Terima kasih….pak…saya ucapkan beribu-ribu terima kasih.”, ujar nyonya itu.
“Tak apa nyonya, itu memang sudah tugas kami.”, ujar pak kondektur.
Tak lama kemudian suasana pun kembali tenang. Sang anak sudah duduk di bangkunya dan si nyonya kembali melanjutkan obrolannya denganku. Kami pun mengobrol cukup lama dan kuperhatikan, selama kami mengobrol, anak nyonya itu menatapku tajam ke arahku. Aku jadi sedikit salah tingkah.
Anak nyonya itu tampaknya tak suka kepadaku. Ia lalu menarik-narik ibunya dan membisikkan sesuatu ke telinga ibunya. Si nyonya manggut-manggut lalu berbicara lirih kepadaku “Tampaknya anakku tidak terlalu menyukaimu, maaf ya, harap di maklumi karena anakku baru saja kehilangan ayahnya. Jadi, ia tak begitu suka kalau ada lelaki lain yang mendekatiku.”
Aku pun manggut-manggut seraya mengerti apa yang dimaksud si nyonya itu. Aku pun bisa memahami perasaan mereka. “Hmmm….baiklah kalau begitu aku mohon diri sejenak, rasanya ingin aku berjalan-jalan ke gerbong lain. Lagi pula kakiku rasanya mulai kesemutan semenjak tadi duduk di bangku.”, ujarku pamit untuk pergi sejenak.
Sambil berjalan santai aku pun menelusuri gerbong-gerbong kereta sampai di ujung gerbong ke delapan yang terletak paling ujung, aku duduk di sebuah bangku kosong yang terletak di depan bagasi tempat barang-barang. Bangku-bangku di gerbong delapan nampaknya banyak yang kosong. Aku kemudian menatap keluar jendela sambil memandang bulan purnama yang membumbung tinggi di luar sana.
Tak terasa tiga puluh menit berlalu dengan cepatnya. Aku bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju bangku nomor 14, tempat dudukku yang semula, “Mungkin si anak tadi sudah lelap tertidur dan aku pun bisa ngobrol lagi dengan si nyonya tadi.”, pikirku.
Namun, sesampainya di bangkuku, yang ada hanya anak tadi yang masih terjaga. Kemudian aku pun duduk, dan memberanikan diri bertanya kepada anak itu. “Nak, dimana ibumu?”
“Mau apa kamu mencari-cari ibuku! Lagi pula apa urusanmu menanyakan dimana ia berada, toh kamu kan bukan ayahku!”, ucapnya kasar.
Hatiku bergetar mendengar perkataan anak kecil itu, sesaat aku menganggap anak ini kurang ajar, tapi mungkin ada benarnya juga. Walaupun aku suka kepada ibunya tapi kan ia sudah berkeluarga dan sulit bagi sebuah keluarga untuk dengan mudah kehilangan salah satu anggota keluarga yang dicintainya maupun dimasuki oleh orang yang baru mereka kenal. Aku dan anak itu pun terdiam beberapa lama kemudian anak itu tertidur pulas. Aku pun mulai mengantuk karena semenjak tadi hanya diam mengunci mulut. Akhirnya aku pun memejamkan mata dan tertidur pulas.
Beberapa saat kemudian terdengar lagi olehku deru roda-roda kereta yang berirama. Aku pun mulai membuka mataku lagi. Namun, kini di hadapanku duduk seorang pria gagah yang mengenakan sebuah kemeja putih dan bercelana cokelat. Rambutnya tampak klimis dan dia juga tampak lebih arif dengan kacamatanya. Aku mulai bingung, bukankah yang tadi duduk di hadapanku ini seorang nyonya dan anaknya. “Ah mungkin saja aku sedang bermimpi.”, batinku.
Aku pun berkenalan dengan pria itu, namanya Andi. Persis seperti nama anak kecil yang kutemui dalam mimpiku tadi. Dan kami pun mengobrol tentang segala hal. Andi mulai terbawa pembicaraan. Begitu pula denganku. Kami saling berbagi pengalaman, berbagi cerita dan juga berbagi alamat dan nomor telepon.
“Oh ya, Tuan. Maukah engkau kuceritakan sebuah kisah menarik saat aku berumur 10 tahun?”, Tanya Andi. “Oh tentu saja.”, jawabku. “Baiklah, akan kuceritakan.”, Andi pun bercerita tentang pengalamannya ketika ia berusia 10 tahun. Ketika itu ia tersesat di gerbong kereta dan tidur di bagasi barang. Dan saat ditemukan dan di bawa oleh kondektur menemui ibunya, ia mendapati ibunya sedang asyik mengobrol dengan seorang pria yang tak ia kenal dan ia pun akhirnya merasa cemburu karena belum lama ayahnya meninggal. Ia tak ingin punya ayah yang baru karena ia amat mencintai ayahnya. Andi menyuruh ibunya agar berhenti ngobrol dengan lelaki itu dan menyuruhnya pergi. Lalu sesudah lelaki itu pergi, Andi bertengkar dengan ibunya sehingga ibunya kesal dan akhirnya pergi untuk pindah gerbong. Ketika ibunya telah pergi, lelaki yang semenjak tadi mengobrol dengan ibunya datang kembali dan menanyakan tentang keberadaan ibunya. Adi menjawab dengan nada ketus “Mau apa kamu mencari-cari ibuku! Lagi pula apa urusanmu menanyakan di mana ia berada, toh kamu kan bukan ayahku!”
“Aku merasa bersalah dengan perbuatanku terhadap lelaki itu dan ingin rasanya aku memohon maaf atas sikap kasarku dulu kepadanya.”, Andi menutup ceritanya.
“Lalu dimana ibumu saat ini?”, tanyaku.
“Ibuku pindah gerbong dan ternyata ia pindah ke gerbong belakang. Beberapa saat setelah aku tertidur aku merasa aneh dan beranjak dari tempat dudukku. Tiba-tiba terjadi tabrakan antara kereta yang kutumpangi dengan kereta lain. Saat itu aku berada di gerbong tiga dan selamat sedangkan ibuku rupanya tewas karena ia pindah ke gerbong belakang yang hancur akibat tabrakan itu. Aku amat menyesal seandainya saja aku membiarkan ibuku tetap mengobrol dengan pria itu mungkin ibuku tak akan pindah gerbong dan menyusul ayahku ke alam baka.”, Andi menjelaskan panjang lebar untuk kesekian kalinya.
“Oh, aku turut bersedih atas pengalamanmu yang amat menyedihkan.”, ujarku bersimpati. Dalam hati aku berfikir mungkinkah aku melenggang ke masa lalu selama aku tertidur, ataukah mimpi itu hanya kebetulan saja.
“Hmm…boleh aku tanya sesuatu?”, tanyaku.
“Oh ya, silahkan.”, jawab Andi.
“Hmm…aku ingin tahu, saat kau terbangun….sebelum kecelakaan itu..kau tahu dimana pria yang duduk dihadapanmu?”, tanyaku lagi.
“Kurasa ia pergi ke gerbong lain saat aku tertidur, yang jelas aku tidak menemukannya saat aku terbangun.”
Seribu satu tanda tanya mulai memusar di dadaku. Apakah benar pria yang ada di masa lalu itu adalah aku? Sesaat aku masih ingat senyuman nyonya yang tadi duduk di bangku nomor 13 dan mengobrol denganku sambil menunggu anaknya ditemukan hatiku mulai gundah, tak mungkin ini suatu kebetulan…tapi bagaimana bisa?
“Maaf, Tuan. Apa kau suka berjalan-jalan dengan kereta?”, Andi tiba-tiba memotong lamunanku.
“Oh…eh…iya…tentu saja…”, jawabku gugup.
“Selama hidupku aku merasa dihantui perasaan bersalah terhadap pria yang kucaci maki 10 tahun lalu. Setiap aku bepergian naik kereta aku selalu memesan bangku nomor 13 tempat dahulu ibuku duduk sebelum ia pergi untuk selama-lamanya. Dan aku juga selalu menceritakan kisah ini kepada setiap orang yang duduk di bangku nomor 12, 14 dan 15. aku juga selalu berpesan kepada semua orang yang kuceritakan tentang kisah ini untuk menyampaikan permohonan maafku yang sebesar-besarnya untuk pria yang 10 tahun lalu kucaci maki. Ibu dan ayahku di sana pasti tak suka memaafkanku jikalau permohonan maaf ini tak sampai kepada pria itu. Maukah Tuan membantuku?”, pinta Andi.
“Baiklah aku akan membantumu. Dan aku yakin pria itu pasti sudah memaafkanmu, karena dulu umurmu kan masih 10 tahun.”, ujarku menghibur Andi.
“Saat ini pasti pria itu sudah berumur sekitar 40 tahun dan mungkin dia sudah punya istri dan anak.”, ujar Andi.
Kereta pun terus melaju, hingga akhirnya tiba di kota Surabaya. Aku dan Andi pun turun di salah satu stasiun di Kota Pahlawan itu. Dari sana kami berpisah menuju ke tempat tujuan kami masing-masing. Walaupun kami sudah berpisah masih saja aku memikirkan serentetan peristiwa yang kutemui di kereta tadi. Semenjak saat itu aku pun mulai berjanji, aku tak akan banyak ngobrol selama perjalanan dengan kereta. Aku juga nggak bakal lagi-lagi tertidur di bangku kereta. Mungkin aku bisa mengusir kebosanan dalam perjalanan dengan membaca-baca buku sambil minum kopi, atau melihat-lihat pemandangan sepanjang perjalanan.
Tapi “Ops…!”, tak kusadari kedua ikatan tali sepatuku terlepas, aku pun berjongkok untuk menalikannya kembali. Namun saat aku berjongkok, “Pluk…!!”, dua bungkus cokelat jatuh dari sakuku. Aku mulai berfikir dari mana cokelat-cokelat ini, aku merasa tak pernah membeli cokelat sepanjang perjalanan. “Ah….aneh-aneh saja yang terjadi hari ini.”

PERIBAHASA INDONESIA TERPOPULER


A
* Ada asap ada api > Tak dapat dipisahkan, munculnya suatu kejadian / masalah pasti ada penyebabnya.
* Ada air ada ikan > Di manapun seseorang itu berusaha, tentu ada rezeki.
* Ada gula ada semut > Dimana ada kesenangan di situlah banyak orang datang.
* Ada udang di balik batu > Ada suatu maksud yang tersembunyi.
* Ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang > kalau orang yang dicintai/dikasihi dapat rezeki maka orang tersebut akan dikasihi, dibelai, dimanja dan kalau rezeki berkurang dan tidak ada penambahan bahkan tidak ada, maka orang tersebut tidak lagi dihiraukan (tidak disayang, dimanja lagi).
* Adat teluk timbunan kapal, adat gunung tepatan kabut > Meminta hendaknya kepada yang punya, bertanya hendaknya kepada yang pandai.
* Air beriak tanda tak dalam > Orang yang banyak bicara biasanya kurang ilmunya.
* Air besar batu bersibak > Persaudaraan akan bercerai berai apabila terjadi perselisihan.
* Air tenang menghanyutkan > Orang yang pendiam biasanya banyak ilmunya.
* Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga > Sifat orang tua pasti menurun pada anaknya.
* Air susu dibalas air tuba > Kebaikan dibalas kejahatan.
* Air tenang jangan disangka tiada buayanya > Orang yang diam jangan disangka pengecut.
* Air tenang menghanyutkan > Orang yang pendiam biasanya banyak pengetahuannya.
* Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam > Tidak enak makan dan minum ( biasanya karena terlalu bersedih / duka ).
* Alah bisa karena biasa > Segala kesukaran tak akan terasa lagi bila sudah biasa.
* Anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba disusukan > Selalu membereskan urusan orang lain tanpa mempedulikan urusan sendiri.
* Anjing menggonggong, khafilah berlalu > Biarpun banyak rintangan dalam usaha kita, kita tidak boleh putus asa.
* Api dalam sekam > Perbuatan jahat yang tak tampak.
* Asam di darat, garam di laut, bertemu di belanga > Kalau sudah jodoh, walaupun jauh bertempat tinggal pasti bertemu juga.
* Ayam bertelur di padi mati kelaparan > Orang yang selalu kekurangan, meskipun penghasilannya banyak.
B
* Bagai air di atas daun talas > Orang yang tidak punya pendirian yang tetap.
* Bagai api dengan asap > Persahabatan yang abadi.
* Bagai anak ayam kehilangan induk > Bercerai berai karena kehilangan tumpuan.
* Bagai bara dalam sekam > Perbuatan jahat yang tak tampak.
* Bagai bulan kesiangan > Pucat dan lesu.
* Bagai duri dalam daging > Selalu terasa tidak menyenangkan hati.
* Bagai kacang lupa akan kulitnya > Tidak tahu diri, lupa akan asalnya.
* Bagai katak dalam tempurung > Sangat sedikit pengetahuannya, kurang luas pandangannnya.
* Bagai kebakaran jenggot > Bingung tak karuan.
* Bagai kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau > Hidup dalam kesukaran / kesengsaraan.
* Bagai kerbau dicocok hidung> Menurut saja apa yang menjadi keinginan orang.
* Bagai mencincang air. > Mengerjakan perbuatan yang sia-sia.
* Bagai mendapat durian runtuh. > Mendapat keuntungan yang tidak disangka-sangka tanpa harus bersusah payah mendapatkannya.
* Bagai menegakkan benang basah. > Melakukan pekerjaan yang mustahil dapat dilaksanakan.
* Bagai mentimun dengan durian. > Orang yang lemah / miskin melawan orang kaya / kuat.
* Bagai musang berbulu ayam. > Orang jahat bertingkah laku sebagai orang baik.
* Bagai musuh dalam selimut. > Musuh dalam kalangan / golongan sendiri.
* Bagai pagar makan tanaman. > Orang yang merusak barang / sesuatu yang diamanatkan kepadanya.
* Bagai pinang dibelah dua. > Dua orang yang serupa benar.
* Bagai pungguk merindukan bulan. > Seseorang yang merindukan kekasihnya, tetapi cintanya tak terbalaskan.
* Bagai telur di ujung tanduk. > Sesuatu keadaan yang sangat sulit.
* Bagaikan air dengan minyak. > Tak dapat bersatu.
* Bagai air di daun talas. > Selalu berubah-ubah atau tidak tetap pendiriannya.
* Bagai anak ayam kehilangan induk. > Bercerai berai karena kehilangan tumpuan.
* Bagai kebakaran janggut. > Bingung tidak keruan.
* Bagai makan buah simalakama, dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati > Melakukn dua pekerjaan yang sama-sama berbahaya.
* Belum bertaji hendak berkokok. > Belum berilmu/kaya/berkuasa sudah hendak menyombongkan diri.
* Belum beranak sudah ditimang. > Belum berhasil, tetapi sudah bersenang-senang lebih dulu.
* Berani karena benar, takut karena salah > Orang yang bersalah senantiasa dalam ketakutan.
* Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. > Bersama-sama dalam suka dan duka, baik buruk sama-sama ditanggung.
* Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. > Biarpun banyak rintangan dalam usaha kita, kita tidak boleh putus asa.
* Bergantung pada akar lapuk. > Mengharapkan bantuan dari orang yang tidak mungkin memberikan bantuan.
* Berguru ke padang datar, dapat rusa belang kaki. Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi. > Belajar harus sungguh-sungguh, jangan terputus di tengah jalan.
* Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi > Orang belajar haruslah bersungguh-sungguh tidak boleh setengah-setengah.
* Bermain air basah,bermain api hangus. > Setiap pekerjaan atau usaha ada susahnya.
* Bertepuk sebelah tangan > Kebaikan yang hanya dari satu pihak.
* Besar pasak daripada tiang. > Besar pengeluaran daripada pendapatan.
* Biduk lalu kiambang bertaut. > Lekas berbaik atau berkumpul kembali. ( Seperti perselisihan antara sanak keluarga yang kembali rukun ).
* Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya > Sifat seorang anak tidak tidak jauh beda dari orang tuanya.
* Bumi tidak selebar daun kelor. > Dunia tidak sempit.
* Buruk rupa cermin dibelah > Menyalahkan orang lain meskipun dia sendiri yang bersalah.
C
* Cupak sepanjang betung, adat sepanjang jalan > Hendaklah kita melakukan sesuatu menurut adat dan kebiasaan yang berlaku.
* Cepat kaki , ringan tangan > Cekatan dan lekas mengerjakan sesuatu. ( Suka menolong sesama umat )
D
* Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu > Pikiran orang tidak dapat diketahui.
* Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah > Daripada hidup menanggung malu lebih baik mati.
* Daripada hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang. > Lebih baik mati daripada menanggung malu.
* Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. > Sebaik-baik negeri orang tidak sebaik di negeri sendiri.
* Datang tampak muka, pulang tampak punggung. > Datang dan pergi hendaklah memberi tahu.
* Diam seribu bahasa > Diam sama sekali.
* Di luar bagai madu, di dalam bagai empedu > Mulutnya manis tetapi hatinya jahat.
* Dimana bumi berpijak, disitu langit dijunjung > Dimana kita tinggal, hendaklah menurut adat istiadat di negeri itu.
* Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi > Sejajar kedudukannya ( martabat atau tingkatannya )
E
* Esa hilang dua terbilang > Berusaha harus dengan keras hati sampai maksud tercapai.
G
* Gajah dipandang karena gadingnya, harimau dipandang karena belangnya > Manusia dipandang dengan segala yang ada pada dirinya.
* Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak / Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat. > Kesalahan / aib sendiri yang besar tidak tampak, kesalahan / aib orang lain meskipun sedikit tampak jelas.
* Gajah mati karena gadingnya. > Orang yang mendapat kecelakaan atau binasa karena keunggulannya / tabiatnya.
* Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. > Orang terkenal jika ia mati dalam beberapa lama masih disebut-sebut orang namanya.
* Gajah berjuang sama gajah, pelanduk mati di tengah-tengah > Jika terjadi pertengkaran antar orang besar, maka rakyat yang akan menderita.
* Gali lubang, tutup lubang. > Berhutang untuk membayar hutang yang lain.
* Gayung bersambut, kata berjawab. > Menangkis serangan orang, menjawab perkataan orang.
* Guru makan berdiri, murid kencing berlari > Dalam segala hal murid akan selalu mencontoh gurunya, jika guru berbuat yang tidak patut maka murid akan berbuat yang jauh lebih buruk.
H
* Habis manis sepah dibuang > Setelah tidak berguna lagi lalu dibuang tanpa dipedulikan lagi.
* Hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang jua. > Budi bahasa / perbuatan yang baik tidak akan dilupakan orang.
* Hangat-hangat tahi ayam. > Kemauan yang tidak tetap.
* Harapkan guntur di langit, air di tempayan dicurahkan. > Mengharapkan sesuatu yang belum tentu, barang yang sudah ada dilepaskan.
* Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, orang mati meninggalkan nama > Orang baik akan selalu meninggalkan nama baik, sedamngkan orang jahat akan meninggalkan nama buruk.
* Hasrat hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. > Keinginan atau cita-cita yang mustahil dapat dicapai.
* Hanya sampai dibibir saja > Apa yang dikatakan tidak keluar dari isi hatinya
* Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai > Kalau kita ingin kaya hendaklah menabung (berhemat), kalau kita ingin pandai hendaklah rajin belajar.
* Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah. >Selama hidup orang harus taat kepada adat kebiasaan dalam masyarakat.
* Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri > Sebaik-baik negeri orang tidak sebaik negeri sendiri.
I
* Ilmu padi makin berisi makin merunduk > Makin banyak pengetahuan makin merendahkan diri.
J
* Jauh di mata dekat di hati > Sekalipun berjauhan, tapi harus selalu ingat – mengingat.
* Jauh panggang dari api > Banyak bedanya, tidak kena, tidak benar.
* Jinak-jinak merpati hendak ditangkap ia pun terbang > Seorang perempuan yang pura-pura mau tetapi sebenarnya tidak mau.
K
* Kalah jadi abu menang jadi arang. > pertengkaran / permusuhan akan merugikan kedua belah pihak ( sama-sama merugi ).
* Kalau pandai meniti buih, selamat badan sampai ke seberang. > Jika dapat mengatasi kesukaran tentu maksud dapat dicapai.
* Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. > Karena kejahatan atau kesalahan yang kecil, hilang kebaikan yang telah diperbuat.
* Karena tak kenal, maka tak sayang > Kita harus mengenal terlebih dahulu baru bisa mengetahui baik buruknya.
* Katak hendak jadi lembu. > Orang hina / miskin / rendah hendak menyamai orang besar / kaya; congkak; sombong.
* Ke bukit sama mendaki, ke lurah sama menuruni > Sama-sama senang, sama-sama susah.
* Kecil-kecil cabai rawit. > Kecil, tetapi cerdik / pemberani / membahayakan.
* Kepala sama berbulu, pendapat berlain-lainan. > Setiap orang berbeda pendapatnya.
* Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak > Kesalahan orang sedikit saja tampak tetapi kesalah sendiri tidak disadari.
* Kunyah dahulu, baru telan > Pikirkan dahulu sebaik-baiknya, baru dikerjakan.
L
* Lain di mulut lain di hati. > Yang dikatakan / diucapkan berbeda dengan isi hatinya.
* Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. > Tiap-tiap negeri atau bangsa berlainan adat kebiasaannya.
* Layang-layang putus talinya > Seseorang yang putus harapan sudah tidak berdaya lagi hanya berserah kepada nasib.
* Lempar batu sembunyi tangan. > Melakukan sesuatu, kemudian berdiam diri seolah-olah tidak tahu menahu.
* Lepas dari mulut harimau jatuh ke mulut buaya. > Lepas dari bahaya yang besar, jatuh ke dalam bahaya yang lebih besar lagi.
* Lidah tak bertulang > Orang mudah mencela orang lain, dengan tidak berpikir terlebih dahulu.
* Lubuk akal tepian ilmu. >Orang cerdik pandai, umumnya tempat untuk bertanya.
M
* Malu bertanya sesat di jalan > Orang yang malu bertanya kepada orang yang lebih pandai akan merugi.
* Masuk dari kuping kiri, keluar lewat kuping kanan > Tidak mendengarkan nasehat
* Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak > Menyesuaikan diri dengan tempat dan keadaan.
* Mati ikan karena umpan, mati saya karena budi > Kita bisa celaka karena tingkah laku yang kurang baik.
* Memancing di air keruh > Mencari keuntungan dalam perselisihan orang.
* Menegakkan benang basah > Melakukan pekerjaan yang mustahil dilakukan.
* Menggantang asap. > Melakukan perbuatan yang sia-sia.
* Menjilat air ludah > Orang yang tidak mempunyai malu.
* Menyingsingkan lengan baju > Bekerja keras.
* Menohok teman seiring dalam lipatan. > Mencelakakan teman sendiri.
* Musang berbulu ayam. > Orang jahat bersikap seperti orang baik.
* Musuh dalam selimut. > Musuh dalam kalangan / lingkungan sendiri.
N
* Nasi sama ditanak, kerak sama dimakan > Sama-sama bekerja dan memungut hasil.
* Nasi sudah menjadi bubur. > Sudah terlajur, tidak dapat diperbaiki atau diubah lagi.
* Nila setitik rusak susu sebelanga > Karena kesalahan yang kecil hilang kebaikan yang telah diperbuat.
O
* Orang haus diberi air > Memberi pertolongan kepada seseorang yang sungguh mengharapkan bantuan.
* Ombak yang kecil jangan diabaikan > Perkara yang kecil yang mungkin mendatangkan bahaya jangan diabaikan.
P
* Pagar makan tanaman > Orang yang dipercaya menjaga sesuatu, tetapi ia sendiri yang merusaknya.
* Patah tumbuh hilang berganti > Suatu jabatan , apabila yang menjabat berhenti, diganti dengan yang baru.
* Pucuk dicinta ulam pun tiba > Yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan.
R
* Rambut sama hitam, hati masing – masing > Setiap orang mempunyai kesenangan sendiri-sendiri.
S
* Seperti kuda lepas pingitan > Orang yang sangat gembira karena lepas dari kungkungan.
* Seperti durian dengan mentimun. > Orang lemah / miskin / bodoh melawan orang kuat / kaya / pandai.
* Senjata makan tuan > Binasa karena tipu daya diri sendiri.
* Sambil menyelam minum air > Mendapatkan suatu keuntungan , masih dapat mencari keuntungan yang lain.
* Selama hayat dikandung badan > Selama kita masih hidup.
* Si cebol hendak mencapai bulan > Menghendaki sesuatu yang mustahil tercapai.
* Sekali rengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui > Sekali melakukan pekerjaan beberapa maksud tercapai.
* Seperti kerbau dicocok hidung > Selalu menurut saja karena kebodohannya.
Seperti katak dalam tempurung > Sangat picik pengetahuan/makin kurang luas pandangannya.
* Sehari selembar benang, lama-lama menjadi sehelai kain. > Pekerjaan sulit yang dikerjakan dengan penuh kesabaran, lama-lama akan berhasil juga.
* Seorang makan cempedak, semua kena getahnya. > seorang berbuat salah, semua dianggap salah juga.
*. Seperti cacing kepanasan. > Tidak tenang, selalu gelisah.
* Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. > Pikir dahulu masak-masak sebelum berbuat sesuatu ( pikirkan untung dan ruginya ).
* Setali tiga uang. > Sama saja, tidak ada bedanya.
* Serigala berbulu domba. > Orang yang kelihatannya bodoh dan penurut tetapi sebenarnya kejam, jahat, dan curang.
T
* Tahu asam garamnya. > Tahu seluk beluknya / berpengalaman.
* Tidak pasah kena pisau, tak sakit kena alu > Orang yang sangat tabah menghadapi cobaan.
* Tak ada laut yang tak berombak > Tiap-tiap pekerjaan ada resikonya.
* Tak ada gading yang tak retak > Tidak ada sesuatu yang tiada cacatnya.
* Takkan lari gunung dikejar, hilang kabut tampaklah ia > Jangan tergesa-gesa mengerjakan sesuatu yang telah pasti.
* Tiada rotan akarpun jadi. > Kalau tidak ada yang baik, yang kurang baik pun boleh juga.
* Tong kosong nyaring bunyinya. > Orang yang bodoh biasanya banyaknya cakapnya/ pembicaraannya.
U
* Udang tak tahu di bungkuknya, orang tak tahu di buruknya > Orang buruk yang menyangka dirinya bagus.
* Umur setahun jagung. > Belum berpengalaman.
* Utang emas dapat dibayar, utang budi dibawa mati > Kebaikan orang akan diingan selama-lamanya

peribahasa

 Peribahasa Indonesia sudah sering digunakan oleh masyarakat. Keanekaragaman adat-istiadat, budaya, dan bahasa di negara Indonesia berpengaruh pada perbendaharaan kalimat, yaitu Peribahasa Indonesia. Berikut ini saya akan memberikan kumpulan Peribahasa Indonesia beserta arti atau maknanya.

1. Besar pasak daripada tiang. Artinya lebih besar pengeluaran daripada pendapatan. bisa dibilang orang yang tidak bisa mengatur keuangan.

2. Ada uang abang di sayang, tak ada uang abang ditendang. Artinya hanya mau bersama disaat senang saja tetapi tidak mau tahu disaat sedang susah.

3. Air beriak tanda tak dalam. Artinya orang yang banyak bicara biasanya tidak banyak ilmunya.

4. Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.Artinya setiap orang yang sudah meninggal pasti akan dikenang sesuai dengan perbuatannya di dunia.

5. Bagai pungguk merindukan bulan. Artinya seseorang yang membayangkan atau menghayalkan sesuatu yang tidak mungkin.

6. Bagai Makan Buah Simalakama. Artinya bagai seseorang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit untuk dipilih.

7. Ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang. Artinya hanya mau bersama saat sedang senang saja, tak mau tahu di saat sedang susah.

8. Menang jadi arang, kalah jadi abu. Artinya kalah ataupun menang sama-sama menderita.

9. Bagaikan abu di atas tanggul.Artinya orang yang sedang berada pada kedudukan yang sulit dan mudah jatuh.

10. Ada Padang ada belalang, ada air ada pula ikan.Artinya Di mana pun berada pasti akan tersedia rezeki buat kita.

11. Adat pasang turun naik. Artinya kehidupan di dunia ini tak ada yang abadi, semua senantiasa silih berganti.

12. Membagi sama adil, memotong sama panjang. Artinya jika membagi maupun memutuskan sesuatu hendaknya harus adil dan tidak berat sebelah.

13. Air beriak tanda tak dalam. Artinya orang yang banyak bicara biasanya tak banyak ilmunya.

14. Air tenang menghanyutkan. Artinya orang yang kelihatannya pendiam, namun ternyata banyak menyimpan ilmu pengetahuan dalam pikirannya.

15. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Artinya Sifat-sifat anak biasanya menurun dari sifat orangtuanya.

16. Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi. Artinya Menuntut ilmu hendaknya sepenuh hati dan tidak tanggung-tanggung agar mencapai hasil yang baik.

17. Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga. Artinya Sepandai-pandainya manusia, suatu saat pasti pernah melakukan kesalahan juga.

18. Tong kosong nyaring bunyinya. Artinya Orang sombong dan banyak bicara biasanya tidak berilmu.

19. Tong penuh tidak berguncang, tong setengah yang berguncang. Artinya Orang yang berilmu tidak akan banyak bicara, tetapi orang bodoh biasanya banyak bicara seolah-olah tahu banyak hal.

20. Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Artinya Orang tua yang bersikap seperti anak muda, terutama dalam masalah percintaan.

21. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Artinya Karena kesalahan kecil, menghilangkan semua kebaikan yang telah diperbuat.

22. Bagaikan burung di dalam sangkar. Artinya Seseorang yang merasa hidupnya dikekang.

24. Terbuat dari emas sekalipun, sangkar tetap sangkar juga. Artinya Meskipun hidup dalam kemewahan tetapi terkekang, hati tetap merasa tersiksa juga.

25. Sakit sama mengaduh, luka sama mengeluh. Artinya Seiya sekata dalam semua keadaan.

26. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Artinya Segala sesuatu dalam kehidupan bukan manusia yang menentukan.

27. Barangsiapa menggali lubang, ia juga terperosok ke dalamnya. Artinya Bermaksud mencelakakan orang lain, tetapi dirinya juga ikut terkena celaka.

28. Jauh di mata dekat di hati. Artinya Dua orang yang tetap merasa dekat meski tinggal berjauhan.

29. Seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul. Artinya Seberat apapun penderitaan orang yang melihat, masih lebih menderita orang yang mengalaminya.

30. Badan boleh dimiliki, hati jangan. Artinya Ungkapan bahwa orang tersebut sudah memiliki kekasih, hatinya sudah ada yang memiliki. Secara fisik mau menuruti segala macam perintah yang menindas, namun di dalam hati tetap menentang.

31. Lain di bibir lain di hati. Artinya Perkataan yang tidak sesuai dengan kata hatinya, tidak jujur.

32. Seperti lebah, mulut bawa madu, pantat bawa sengat. Artinya Berwajah rupawan namun perilakunya jahat.

33. Ada harga ada rupa. Artinya Harga suatu barang tentu disesuaikan dengan keadaan barang tersebut.

34. Membelah dada melihat hati. Artinya Ungkapan untuk menyatakan kesungguhan.

35. Sedap jangan ditelan, pahit jangan segera dimuntahkan. Artinya Berpikir baik-baik sebelum bertindak agar tidak kecewa.

36. Karena mata buta, karena hati mati. Artinya Menjadi celaka karena terlalu menuruti hawa nafsunya.

37. Pandai berminyak air. Artinya Pandai menyusun kata-kata untuk mencapai maksudnya.

38. Putih kapas dapat dibuat, putih hati berkeadaan. Artinya Kebaikan hati yang bisa dilihat dari tingkah lakunya.

39. Dibujuk ia menangis, ditendang ia tertawa. Artinya Mau bekerja dengan baik jika sudah mendapat teguran.

40. Jika ditampar sekali kena denda emas, dua kali setampar emas pula, lebih baik ditampar betul-betul. Artinya Setiap perbuatan jahat itu sama saja akibatnya, meski besar ataupun kecil.

41. Lubuk akal tepian ilmu. Artinya Seseorang yang dikenal memiliki banyak ilmu pengetahuan.

42. Nasi tak dingin, pinggan tak retak. Artinya Orang selalu mengerjakan sesuatu dengan hati-hati.

43. Tolak tangan berayun kaki, peluk tubuh mengajar diri. Artinya Belajar untuk mengendalikan diri dan meninggalkan kebiasaan bersenang-senang.

44. Seludang menolak mayang. Artinya Sebutan untuk orang sombong dan melupakan orang lain yang telah berjasa dalam hidupnya.

45. Kalau dipanggil dia menyahut, kalau dilihat dia bersua. Artinya Bisa menyampaikan maksud dengan cara yang tepat.

46. Pangsa menunjukkan bangsa, umpama durian. Artinya Kita bisa melihat perangai seseorang melalui tutur katanya.

47. Ditindih yang berat, dililit yang panjang. Artinya Kemalangan yang datang tanpa bisa dihindari.

48. Tertangguk pada ikan sama menguntungkan, tertanggung pada rangsang sama mengiraikan. Artinya Suka dan duka dijalani bersama. Keuntungan yang didapatkan dinikmati bersama-sama, kesusahan yang dialami diatasi bersama-sama juga.

49. Tambah air tambah sagu. Artinya Tambah banyak permintaannya, bertambah pula biayanya. Bila bertambah anak, akan bertambah pula rezekinya.

50. Sekali air pasang, sekali tepian beranjak; Sekali air di dalam, sekali pasir berubah. Setiap terjadi perubahan pimpinannya, berubah pula aturannya.

51. Bagaikan api makan ilalang kering, tiada dapat dipadamkan lagi. Artinya Orang yang tidak mampu menolak bahaya yang menimpanya.

52. Hancur badan di kandung tanah, budi baik dikenang jua. Artinya Budi pekerti, amal kebaikan, akan selalu dikenang meski seseorang sudah meninggal dunia.

53. Alang berjawab, tepuk berbatas. Artinya Perbuatan baik dibalas dengan perbuatan baik, perbuatan jahat dibalas dengan perbuatan kejahatan pula.

54. Cuaca di langit pertanda akan panas, gabak di hulu tanda akan hujan. Artinya Sesuatu pasti akan ada identitas atau tanda khususnya.

55. Orang mau seribu daya, bukan seribu dali. Artinya Jika menghendaki sesuatu, pasti akan mendapatkan jalan, jika tidak menghendaki, pasti mencari alasan.

56. Enak makan dikunyah, enak kata diperkatakan. Artinya Sesuatu hal haruslah dimusyawarahkan terlebih dahulu.

57. Hawa pantang kerendahan, nafsu pantang kekurangan. Artinya Hawa nafsu tidak boleh diremehkan harus dijaga sebaik-baiknya

58. Sekali jalan terkena, dua kali jalan tahu, tiga kali jalan jera. Artinya Bagaimanapun bodohnya seseorang, jika sekali tertipu, tak akan mau tertipu lagi untuk kedua kalinya.

59. Jangan disesar gunung berlari, hilang kabut tampaklah dia. Artinya Hal yang sudah pasti, kerjakanlah dengan sabar tidak perlu tergesa-gesa.

60. Sehari selembar benar, setahun selembar kain. Artinya Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan keyakinan dan kesabaran akan membuahkan hasil yang baik.

61. Di mana kayu bengkok, di sana musang mengintai. Artinya Orang yang sedang lengah mudah dimanfaatkan oleh musuhnya.

62. Terlalu aru berpelanting, kurang aru berpelanting. Artinya Segala sesuatu yang berlebihan atau kurang akan berakibat kurang baik.

63. Menghela lembu dengan tali, menghela manusia dengan kata. Artinya Segala pekerjaan harus dilakukan menurut tata cara aturannya masing-masing.

64. Lemak manis jangan ditelan, pahit jangan dimuntahkan. Artinya perundingan yang baik jangan disia-siakan, tetapi hendaknya dipikirkan secara dalam-dalam.

65. Menanti-nanti bagaikan bersuamikan raja. Artinya Menantikan bantuan dari orang yang tidak dapat memberikan bantuan.

66. Luka sudah hilang parut tinggal juga. Artinya Setiap perselisihan selalu meninggalkan bekas dalam hati orang yang berselisih, walaupun perselisihan itu sudah berakhir.

67. Makan hati berulam rasa. Artinya Menderita karena perbuatan orang yang kita sayang.

68. Untung bagaikan roda pedati, sekali ke bawah sekali ke atas. artinya Keberuntungan atau nasib manusia tiada tetap, kadang di bawah dan kadang di atas.

69. Kalau tiada senapang, baik berjalan lapang. Artinya. Jika tidak bersenjata atau tidak bertenaga, sebaiknya mengalah.

Jumat, 20 Februari 2015

           puisi

Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang sarat dengan keindahan. Berbeda dengan prosa. puisi dalam menyampaikan makna lebih tersirat sedangkan prosa cenderung menceritakan maupun menjelaskan secara gamblang. Oleh karena itu pembaca puisi dituntut menggunakan perasaan dalam memaknai sebuah puisi. Dari itulah puisi membutuhkan keindahaan agar dapat menarik pembaca.

Puisi menurut waktu digolongkan menjadi dua, puisi lama dan puisi baru. Puisi lama memiliki banyak aturan diantaranya, penggunan sajak, jumlah bait, jumlah baris setiap bait, jumlah suku kata dalam setiap baris, dan gaya bahasa tertentu yang memiliki aturan tetap. Contoh puisi lama adalah pantun, mantra, soneta, dan banyak lainnya. Sedangkan puisi baru atau modern lebih bersifat bebas yang diutamakan adalah keindahan dalam diksi atau pemilihan kata, bentuk tidak penting, namun isi itulah yang mewakili sebuah puisi. Dalam puisi baru tidak ada lagi penggolongan karena dalam puisi baru bersifat bebas tanpa ada penggolongan.

Banyak orang mampu menulis puisi, namun tidak banyak puisi yang mampu menarik perhatian banyak orang. Hanya ada satu orang puisikus yang melegenda yakni Sang Maestro Chairil Anwar. Sampai sekarang puisinya masih sering di perdengarkan di acara-acara tertentu. Untuk itu diharapkan akan muncul Chairil Anwar-Chairil Anwar baru yang mampu menghidupkan kembali gelora dalam dunia puisi. Dan anda sebagai pembaca cobalah untuk berpuisi sebanyak-banyaknya. Dan ini beberapa tips agar mampu mencipta puisi dengan baik.

1) Sering membaca contoh-contoh puisi
2) Cobalah pergi ke tempat-tempat yang jarang dikunjungi, biasanya inspirasi datang dari tempat yang berkesan.
3) Ingatlah kejadian-kejadian yang paling indah atau bahkan yang paling sedih. Itupun bisa menjadi sumber inspirasi.
4) Setelah mendapat inspirasi gunakan emosionalmu sehingga kamu dapat terhanyut dalam inspirasimu kalau memang perlu berteriaklah, marahlah, berlarilah, jika inspirasimu berupa suatu kemarahan. Namun jika inspirasimu berupa kesedihan maka jangan kamu tahan biarkan air mata menetes.
5) Lalu ungkapkan apa yang kamu rasakan misalnya : dinginya angina malam, jantung yang bergenderang, hati yang melayang atau yang lainnya.
6) Langkah terakhir tulis yang kamu rasakan dalam secarik kertas.
Ada sedikit tamabahan bahwa kemampuan seorang membuat puisi meningkat dua puluh kali saat dia sedang kasmaran







@@@@@



Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedang berada di kamar yang sunyi.” Ada pula yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi di mana saja.” Pendapat lain mengatakan “Saya bisa menulis puisi saat hati saya sedang sedih.”
Ungkapan-ungkapan di atas, hanya sebagian kecil saja pendapat orang tentang menulis puisi. Ada berbagai cara yang bisa digunakan untuk mengasah keterampilan menulis puisi dengan baik & Benar.
Puisi dapat ditulis berdasarkan catatan harian. Ikutilah langkah berikut ini jika Anda akan menulis puisi berdasar catatan harian:

1. Baca dan renungkan isi catatan harian yang Anda miliki!
2. Coretlah kata-kata yang tidak penting dan tambahkan katakata yang menurut Anda menarik untuk disertakan!
3. Hapuslah baris-baris yang tidak penting!
4. Atur dan urutkan kembali baris-baris yang sudah Anda pilih!
5. Bacalah kembali hasil akhir baris-baris itu!
6. Suntinglah kembali baris-baris itu sehingga menjadi barisbaris puisi yang menarik!


ada beberapa cara agar mendapat inspirasi dalam membuat puisi, diantaranya:

  1. bebaskan hati, jiwa dan fikiran kalian..
  2. jujur pada keadaan mu.
  3. tumpahkan semua perasaan mu pada media tulis itu.
  4. coba mencari tempat yang bisa memberi mu sebua inspirasi positif.
  5. perbanyaklah kosakata dalam berbahasa yang santun.
  6. percayadiri pada permainan kata dalam puisi tersebut.
  7. hindari kata2 yang mengandung hal2 yan negatif/kata2 kasar.
  8. usahakan perasaan mu, dalam keadaan damai.
  9. hindari sugesti untuk mempersalahkan seseorang dalam kehidupan mu.
  10. sisi positif hidup dapat menginspirasi anda untuk membuat puisi.
Cara Mudah Menulis Puisi

  – Menulis puisi? Aduh tidak berani, Saya kan bukan sastrawan,
Begitulah ungkapan sebagian orang tentang  menulis puisi. Mereka menganggap bahwa puisi hanya dapat ditulis oleh sastrawan-sastrawan saja, atau puisi hanya bisa tercipta kala hati sedih, galau benarkah demikian?
Nah, di sini saya ingin berbagi tentang cara mudah  menulis puisi dengan membuatPohon Kata.Beberapa hal yang harus dicermati saat menulis puisi adalah sebagai berikut:
1. Tema
Tema merupakan ide pokok dari puisi yang akan menjadi inti puisi dan kehadirannya sangat penting. Kita tetapkan tema yang akan kita jadikan puisi. Tema bisa kita ambil dengan cara mengamati hal-hal yang ada di lingkungan kita,pengalaman hidup, peristiwa yang kita alami, misal, kebakaran, kelautan, sosok ibu atau kekeringan hutan,dll
2. Membuat pohon kata
Membuat gambar sket pohon dengan beberapa anak cabang yang ujungnya berdaun. Setelah kita tetapkan tema, misal tentang” kekeringan hutan”.kita buat sket/ gambar sebuah pohon yang bercabang banyak
Mendata kata dari kata hutan Kata “hutan” kita jabarkan dengan beberapa kata yang berkaitan dengan hutan tersebut. Misal : gersang, gundul, kering, ranting, hijau, rusak, sejuk, longsor, gugur,daun,tanah, hujan, kemarau, dll
Menulis kata. Kata-kata tersebut kita tulis pada daun-daun dalam gambar atau bisa juga untuk menarik anak-anak( misal yang akan belajar ini anak sekolah) kata-kata yang ada kaitannya dengan karakter kekeringan yang telah kita data tadi kita tulis dalam guntingan berbentuk daun. Selanjutnya, daun-daun tadi tempelkan pada cabang pohon tersebut. Cabang satu dengan kata kering, cabang dua dengan kata gersang , cabang tiga dan seterusnya.
Mendeskripsikan setiap kata menjadi kalimat indah. Setiap kata kita deskrisikan menjadi kalimat indah, misal: kering kerontang wajahmu kini rantingmu terpangkas oleh tangan-tangan jahil dsb.
3. Diksi
Diksi adalah pilihan kata yang tepat sesuai dengan perasaan penulis.Kata yang digunakan bersifat konotatif yang artinya mempunyai makna lebih dari satu dan puitis yang  berarti dapat memberi efek keindahan pada puisi tersebut, kata-kata yang lain yang sehari-hari kita gunakan. Jadi, puisi yang telah dibuat tersebut permaklah dengan diksi yang dapat menimbulkan kesan indah.
4. Rima
Rima bisa disebut persajakan atau persamaan bunyi. Penggunaan rima sangat mendukung keindahan puisi. Suasana hati. Ada dua bunyi yang dapat dipakai untuk memperindah bunyi puisi yaitu aliterasi dan asonansi. Alitersi adalah bunyi indah yang dihasilkan dari persamaan huruf mati atau konsonan. Sedangkan asonansi , bunyi merdu yang dihasilkan dari perpaduan huruf hidup atau vokal.
5. Gaya bahasa
Memilih gaya bahasa yang sesuai sehingga puisi lebih indah dan enak dinikmati. Gaya bahasa yang digunakan dapat personifikasi atau metafora. Misal, hati teriris menangis atau sang raja siang tersenyum menyapa
6. Tipografi
Dengan tipografi yang sesuai, puisi akan indah karena tata letak yang indah pula

Senin, 16 Februari 2015

7 Bidang Utama dalam Produksi Film

1) Produser
Produser adalah seseorang yang membuat film dan bertanggung jawab atas filmnya secara langsung dan melaksanakannya secara sadar. Tugas seorang produser dinyatakan selesai setelah film release/dinyatakan selesai.
Tugas dan Tanggung jawab Produser:
  1. Mencari dan mendapatkan ide cerita untuk produksi.
  2. Membuat proposal produksi berdasarkan ide atau skenario film.
  3. Menyusun rancangan produksi.
  4. Menyusun rencana pemasaran.
  5. Mengupayakan anggaran-dana untuk produksi.
  6. Mengawasi pelaksanaan produksi melalui laporan yang diterima dari semua departemen.
  7. Bertanggung jawab atas kontrak kerja secara hukum dengan berbagai pihak dalam produksi yang dikelola.
  8. Bertanggung jawab atas seluruh produksi.
Hak-hak Produser:
  1. Memilih dan menetapkan penulis skenario dan sutradara.
  2. Menetapkan pemain dan kru produksi utama berdasarkan calon yang telah ditetapkan dalam rancangan produksi dan juga berdasarkan usulan sutradara dan manajer produksi.
  3. Mengarahkan dan memberikan panduan (guide) kepada manajer produksi serta meletakkan dasar – dasar strategi bagi pelaksanaan produksi dan pengelolaan produksi (administratif).
  4. Mendapatkan laporan dari semua departemen (progress report).
  5. Berhak memberikan keputusan bila terjadi konflik di lapangan, terutama bila kegiatan produksi terganggu.
  6. Memberhentikan/mengganti pemain/kru produksi apabila terbukti terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan produksi tersebut yang merugikan produksi.
  7. Memberikan keputusan atas konsep kreatif sutradara yang menyimpang dari rancangan produksi.
  8. Menghentikan produksi apabila dalam pelaksanaan produksi terjadi penyimpangan dari yang telah disepakati.

2) Penulis Skenario
Penulis Skenario adalah sineas profesional yang menciptakan dan meletakkan dasar acuan bagi pembuatan film dalam bentuk (format) naskah (skenario).
Tugas dan Kewajiban Penulis Skenario:
  1. Menciptakan dan menulis dasar acuan dalam bentuk naskah/skenario atas dasar ide cerita sendiri atau dari pihak lain.
  2. Bagi penulis dasar acuan itu bisa dilakukan secara bertahap mulai dari ide cerita, sinopsis (basic story), treatment dan skenario, atau bisa langsung menjadi skenario.
  3. Bekerja dari tahap pengembangan ide (development) sampai jangka waktu terakhir (praproduksi).
  4. Membuat skenario dengan format yang telah ditentukan.
  5. Menjadi narasumber bagi pelaksana produksi bila diperlukan.
  6. Penulis Skenario adalah orang yang mempunyai keahlian membuat transkripsi sebuah film.
  7. Membuat film dalam bentuk tertulis.
Hak-hak Penulis Skenario:
  1. Mendapatkan bahan acuan yang memadai sesuai dengan yang telah disepakati untuk menunjang penulisan scenario.
  2. Mendapatkan kelengkapan bahan acuan penulisan scenario dalam bentuk; melakukan risetliterature dan/atau riset lapangan.
  3. Apabila bahan acuan penulisan scenario dilakukan secara tim, maka nama anggota tim yangterlibat berhak untuk dicantumkan dalam credit title.
  4. Mendapatkan waktu yang memadai untuk melaksanakan proses riset dan penulisan scenario.
  5. Menerima pertimbangan dari pihak lain apabila ada pengurangan, perubahan dan penambahan materi dasar dalam scenario (antara lain; ide dasar, plot, dialog, karakter tokoh-tokoh dan lain sebagainya).
  6. Namanya tercantum dalam credit title dan bahan publikasi lainnya (publicity material).
  7. Apabila scenario ditulis oleh sebuah tim, maka nama anggota tim yang terlibat dicantumkan dalam credit title.

3) Sutradara
Sutradara menduduki posisi tertinggi dari segi artistik. Ia memimpin pembuatan film tentang bagaimana yang harus tampak oleh penonton. Sutradara harus mampu membuat film dengan wawasan, sense of art, serta pengetahuan tentang medium film, untuk mengontrol film dari awal produksi sampai dengan tahap penyelesaian.
4) Juru Kamera (Kameraman)
Juru kamera secara teknis melakukan perekaman visual dengan kamera mekanik ataupun elektronik dalam produksi film di bawah arahan pengarah fotografi dan bertanggungjawab kepadanya. Sutradara juga bekerja sama dekat dengan operator kamera untuk memastikan bahwa pandangan sutradara ditangkap oleh film sebagaimana yang diinginkan. Operator kamera adalah kru dari yang terpilih dalam produksi film yang secara langsung bertanggungjawab dari apa yang terlihat di layar.
Tugas dan Kewajiban Juru kamera (Operator Kamera):
Tahap Persiapan produksi:
  1. Menganalisa mood dari skenario dan konsep sutradara. Dengan melakukan pengarahan, melakukan persiapan dan pemeliharaan peralatan kamera serta sarana penunjangnya.
  2. Melakukan uji coba secara teknis atas peralatan dan bahan baku yang akan dipergunakan dalam produksi.
  3. Melakukan koordinasi dengan key grip sehingga secara teknis dan efisien mampu melaksanakan konsep visual dan gerakannya.
Tahap Produksi:
  1. Melakukan perekaman visual secara teknis sesuai arahan pengarah fotografi, baik dalam halkomposisi, sudut pengambilan, gerak kamera dengan segala perubahannya.
  2. Mengkoordinasikan awak/kru kamera dalam melaksanakan tugasnya.
  3. Menjaga dan memelihara peralatan kamera dalam kondisi baik dan siap pakai.
Hak-hak Juru Kamera (Operator Kamera):
  1. Memberikan usulan yang bersifat teknis agar tercapai hasil rekaman yang baik.
  2. Meminta pengambilan ulang bila secara teknis hasil rekaman sebelumnya kurang baik.
  3. Operator kamera berhak untuk mengingatkan setelah pengambilan gambar, seperti menegur pengatur boom atau microphone apabila masuk ke dalam shot, refleksi equipment atau kru pada kaca, fokus yang tidak tajam atau kesalahan fokus lainnya, flare pada lensa, gerak kamera yang kurang halus atau kurang baik, dan hal-hal lain yang dapat mengurangi keindahan shot yang diinginkan. Pada produksi film yang memiliki bujet besar, operator kamera dapat melaporkan segala hal yang menjadi kekurangan setelah selesai melakukan pengambilan gambar.

5) Director of Photography (DOP)
Yang menciptakan imaji visual film adalah sinematografer atau Pengarah Fotografi/PF. Ia adalah orangyang bertanggungjawab terhadap kualitas fotografi dan pandangan sinematik (cinematik look) dari sebuah film. Ia juga melakukan supervisi personil kamera dan pendukungnya serta bekerja sangat dekat dengan sutradara. Dengan pengetahuannya tentang pencahayaan, lensa, kamera, emulsi film dan imaji digital, seorang sinematografer menciptakan kesan/rasa yang tepat, suasana dan gaya visual pada setiap shot yang membangkitkan emosi sesuai keinginan sutradara.
Tugas dan Kewajiban Sinematografer/Pengarah Fotografi/PF/DOP:
  1. Menganalisa skenario dan membahasnya bersama sutradara dan penata artistik agar mencapai kesesuaian penafsiran untuk mewujudkan gagasan penulis skenario dan sutradara dalam bentuk nyata, dengan menciptakan konsep look dan mood yang disepakati bersama untuk menunjang penceritaan.
  2. Bersama sutradara dan penata artistik menetapkan lokasi shooting hasil dari tim hunting lokasi.
  3. Bersama sutradara, penata artistik dan departemen produksi, mengecek dan melihat ulang hasil hunting (interior/eksterior). Merencanakan letak kamera dan pencahayaan di lokasi. Kemudian membuat floorplan.
  4. Membentuk, memilih/menentukan teamwork yang dianggap memenuhi persyaratan.
  5. Menjabarkan konsep visual dalam pencapaian look dan mood (mencakup warna, pencahayaan, karakter visual, komposisi yang juga menghasilkan gerak) lebih baik dengan referensi foto/gambar yang selanjutnya didiskusikan dengan personil kamera dan pendukungnya.
  6. Menentukan kebutuhan dan menjamin semua peralatan dengan spesifikasi sesuai dengan desain visual. Kemudian mengkoordinasikan tugas personil kamera dan pendukungnya untuk menyiapkan dan memilih serta menentukan sarana peralatan dan bahan baku yang diperlukan dalam menjalankan tugasnya (membuat breakdown kebutuhan alat sesuai dengan desain floorplan).
  7. Melakukan uji coba peralatan dan bahan baku dengan uji coba filter, make up, kostum, properti dan warna set.
  8. Ikut menentukan laboratorium/studio pascaproduksi (film).
Tahap Produksi:
  1. Mempelajari breakdown script dan shooting script dimana seorang sinematografer dapat mengembangkan checklist di setiap harinya dan merencanakan berapa set up per harinya. Dalam setiap set up sinematografer harus memperhatikan lingkungan dan masalah pencahayaan. Contohnya, jika shooting eksterior, penjadwalan menjadi penting berkaitan dengan pergerakan matahari. Catatan penting: jika masuk set jangan lupa dengan block, light, rehearsal, shot.
  2. Memberikan pengarahan tegas kepada personil kamera sesuai dengan design yang sudah dibuat.
  3. Mengawasi set lampu dan waspada terhadap kontiniti. Mengarahkan dan menjaga kesinambungan suasana (atmosfer) dan format visual serta tata cahaya dari setiap shot. Menuntun dan mengembangkan teknis kreatif pencahayaan sebagai gaya dan perubahan peralatan untuk menerangi area aksi/subyek visual untuk menentukan eksposur yang tepat.
  4. Pada saat sutradara mengarahkan aktornya, sinematografer menyiapkan sudut pengambilan gambar, komposisi sesuai dengan blocking sutradara.
  5. Siap menghadapi perubahan karena situasi tertentu di luar rencana (perubahan cuaca, lingkungan set yang berubah).
  6. Memeriksa laporan kamera (camera report) dan continuity lighting log.
  7. Memberikan petunjuk kepada pihak laboratorium/studio pascaproduksi (film) mengenai processing negative (pencucian dengan bahan kimia) dan pencetakan rush copy/release copy (color grading).
  8. Selalu mengingatkan tanggungjawab keselamatan personil dan seluruh sarana peralatan dan bahan baku yang dipergunakan dalam produksi.
  9. Ikut serta memeriksa hasil release copy untuk koreksi kualitas.
  10. Kebutuhan seorang sinematografer terhadap kontrol akhir melalui color-timing.
Hak-hak Sinematografer/Pengarah Fotografi/PF/DOP:
  1. Mendapatkan jumlah dan kualitas awak/kru produksi, sarana peralatan kerja dan bahan baku sesuai dengan desain produksi, serta memenuhi standar mutu.
  2. Memberikan persetujuan; sarana teknis yang akan digunakan, penetapan hasil-hasil shooting yang baik (OK), memberikan persetujuan atas kualitas hasil cetakan release copy.
  3. Memberikan usul kreatif baik teknis, artistik, dan dramatik kepada sutradara dalam hal perekaman visual untuk mendapatkan hasil yang baik.
  4. Membuat catatan SUP (shot under protest) bila terpaksa merekam visual yang tidak disetujui.
  5. Jika ada perubahan yang mendasar dari konsep awal look film, sinematografer berhak diberitahu sebelumnya.

6) Art Director (Penata Artistik)
Art director secara teknis adalah koordinator lapangan yang melaksanakan eksekusi atas semua rancangan desain tata artistik/gambar kerja yang menjadi tanggungjawab pekerjaan production designer. Seluruh proses penyediaan material artistik sejak persiapan hingga berlangsungnya
perekaman gambar dan suara saat produksi menjadi tanggunghawab seorang art director.
Tugas dan Kewajiban ART DIRECTOR:
Tahap Praproduksi:
  1. Menjadi koordinator teknis eksekusi (eksekutor) tata artistik sejak persiapan hingga menjelang dilaksanakannya perekaman gambar dan suara di lokasi yang telah ditentukan.
  2. Membuat breakdown dan jadwal kerja khusus bidang tata artistik.
  3. Menyiapkan elemen-elemen material tata artistik lebih awal sesuai dengan rancangan gambar kerja dari production designer sebagai kesiapan menjelang shooting.
  4. Bersama-sama manajer produksi dan asisten sutradara membuat jadwal shooting.
Tahap Produksi:
  1. Menjadi koordinator teknis eksekusi (eksekutor) tata artistik termasuk penanggungjawab penyediaan segenap unsur tata artistik sesuai dengan tahapan proses perekaman gambar dan suara.
  2. Mengarahkan pelaksanaan kerja staf tata artistik dan menentukan kualitas hasil akhir sebelum dan selama proses perekaman gambar dan suara.
Hak-hak Art Director:
  1. Bersama production designer memilih dan menentukan tim kerja bidang tata artistik yang profesional dan cocok untuk bekerja dalam sebuah produksi film.
  2. Art director berhak menolak perubahan bentuk tata artistik yang tidak mendapat persetujuan dari production designer dan sutradara.

7) Editor (Penyunting Gambar)
Adalah sineas profesional yang bertanggung jawab mengkonstruksi cerita secara estetis dari shot-shot yang dibuat berdasarkan skenario dan konsep penyutradaraan sehingga menjadi sebuah film cerita yang utuh. Seorang editor dituntut memiliki sense of story telling (kesadaran/rasa/indra penceritaan) yang kuat, sehingga sudah pasti dituntut sikap kreatif dalam menyusun shot-shotnya. Maksud sense of story telling yang kuat adalah editor harus sangat mengerti akan konstruksi dari struktur cerita yang menarik, serta kadar dramatik yang ada di dalam shot-shot yang disusun dan mampu mengesinambungkan aspek emosionalnya dan membentuk irama adegan/cerita tersebut secara tepat dari awal hingga akhir film.
Tahap Praproduksi;
  1. Menganalisa skenario dengan melihat adegan yang tertulis dalam skenario dan mengungkapkan penilaiannya pada sutradara.
  2. Berdiskusi dengan departemen yang lain dalam script conference untuk menganalisa skenario, baik secara teknis, artistik dan dramatik.
  3. Dalam produksi film ceriita untuk bioskop, editor bersama produser dan sutradara menentukanproses pascaproduksi yang akan digunakan seperti kinetransfer, digital intermediate atau negative cutting.
Tahap Produksi;
Dalam tahap ini seorang editor tidak memiliki tugas dan kewajiban khusus. Namun dalam proses produksi ini seorang editor dapat membantu mengawasi pendistribusian dan kondisi materi mulai dari laboratorium sampai materi tersebut berada di meja editing. Pihak yang dibantu oleh editor adalah individu profesional yang ditunju kkan oleh rumah produksi yang bersangkutan dalam melaksanakan pendistribusian materi tersebut. Hal ini biasanya dilakukan oleh manajer unit, koordinator
pascaproduksi (post production supervisor) ataupun seorang runner.
Tahap Pascaproduksi;
  1. Membuat struktur awal shot-shot sesuai dengan struktur skenario (rough cut 1).
  2. Mempresentasikan hasil susunan rought cut 1 kepada sutradara dan produser.
  3. Setelah dilakukan revisi berdasarkan hasil diskusi dengan sutradara dan produser, maka dengan kreativitas dan imajinasi editor, ia membentuk struktur baru yang lebih baik. Dalam struktur baru ini editor harus bisa membangun emosi, irama dan alur yang menarik.
  4. Mempresentasikan dan mendiskusikan struktur baru yang dihasilkannya bersama sutradara dan produser hingga struktur yang paling diharapkan (final edit).
  5. Menghaluskan hasil final edit (trimming) hingga film selesai dalam proses kerja editing (picture lock).
  6. Dalam produksi film cerita untuk bioskop, editor bersama sutradara membagi hasil editing tersebut menjadi beberapa bagian (reeling) untuk kebutuhan laboratorium, pengolahan suara dan musik. Sementara untuk film for television, editor bersama sutradara membagi hasil editing tersebut menjadi beberapa bagian untuk pertimbangan kebutuhan jeda iklan (commercial break).
  7. Editor dapat menjadi rekanan diskusi untuk pengolahan suara dan musik. Diskusi ini berupa penentuan suara efek dan musik sebagai pembentuk kesatuan gambar dan suara yang saling mendukung.
  8. Dalam produksi film cerita untuk bioskop, editor dapat juga menjadi pengawas pada proses laboratorium hingga pada proses cetak hasil pertama film (copy A). Sementara dalam produksi film for television, editor dapat menjadi pengawas proses transfer hasil editing yang siap untuk ditayangkan (master edit) ke dalam pita video.
Hak-hak Editor:
  1. Mengajukan usul kepada sutradara untuk mengubah urutan penuturan sinematik guna mendapatkan konstruksi dramatik yang lebih baik.
  2. Mengajukan usul kepada sutradara untuk menambah, mengurangi atau mengganti materi gambar dan suara yang kurang atau tidak sempurna secara teknis maupun efek dramatisnya.
  3. Mendapatkan ruang editing serta sarana kerja yang layak/standar.
  4. Mendapatkan honorarium yang sesuai dengan kontrak yang telah disepakati dan disetujui oleh produser.
  5. Berhak meminta kontrak baru jika ada permintaan tambahan (misalnya pembuatan trailer) untuk bahan promosi film.
  6. Berhak untuk menolak permintaan yang sifatnya pribadi dan menyimpang dari ketentuan yang sudah ada dalam skenario.