Selasa, 07 April 2015

 DRAMA.... PERSAHABATAN MENYESAL.

suatu keluarga yang hidup berkecukupan dan hidup dengan bermewah-mewahan dan mempunyai 2 orang anak yang bernama yuki dan selena. Yuki dan Selena selalu dimanjakan orang tua nya. Apapun keinginan mereka selalu dipenuhi.
Ketika semua keluarga Handoko berkumpul diruang tamu dan suasana pada saat itu hening. Tiba- tiba Selena memecahkan keheningan diruang tamu itu…
Selena : mam, tadi selena lihat hp terbaru bagus banget deh..
beliin donk mam,,,kn selena pengen gaya juga..
mama : ok sayang..besok mama beliin tuk kamu..
Yuki : eh..kamu jangan boros dunk ntar kalau kita bangkrut gimana????(protes kepada adik nya)
Selena : duuhh kamu diam aj deh…sewot banget seh(dengan wajah sinis)
emm terima kasih ya mam..mama emank the best deh (sambil senang dan tersenyum)
Yuki : kamu jangan hamburin uang kayak gitu donk..(sambil marah)
Selena : duuhh..kamu diam aja deh..berisik tahu (sambil melotot)
Mama : sudah-sudah jangan bertengkar lagi (berusaha menenangkan anaknya)

Ditemapat lain ada juga sebuah keluarga yang amat berbeda 180 derajat dari keluarga Handoko. Keluarga ini sangat sederhana dan serba kekurangan. Untuk makan terkadang susah. Keluarga ibu Harni ini mempunyai 2 orang anak yang patuh kepada orang tuanya dan sanagt baik budinya.
Diruang tamu yang sangat kecil mereka berkumpul. Disanalah mereka menghabiskan waktu bersama bersama keluarga. Ketika keluarga sedang asyik nya berbicara tiba- tiba Yudha berbicara kepada ibunya…
Yudha : bu,,yudha mau minta uang sekolah untuk bulan ini.
Rasyad : ya bu..aku juga belum bayar uang SPP bulan ini.
Ibu : ya ntar ibu usahain cari uang nya untuk kalian (sambil tersenyum)
Yudha dan rasyad : (secara bersamaan) makasih ya bu..

Pada suatu pagi yang sangat cerah membuat orang semangat untuk beraktifitas. Dan di sekolah Harapan Bangsa. Di kelas XI IPA 1 terlihatlah 3 orang sahabat yang sangat sombong dan angkuh. Mereka Selena, Yuki, dan satu lagi sahabat mereka bernama Ajeng. Mereka bertiga lahir dikeluarga yang kaya raya berbeda dengan Yudha dan Rasyad. Pagi itu Yudha yang terkenal ramah, menyapa trio itu dengan senyuman…
Yudha : hai teman-teman..
Yuki, Selena dan Ajeng : (secara bersamaan) iihh…ngapain seh orang miskin seperti lo nyapa kita-kita…nyadar dikit donk (wajah dengan sinisnya dan meremehkan)
Rasyad : Yud,,,mending kita pergi dari sini aja..kita memang tidak pantas menyapa mereka..
Selena : bagus kalau lo pada sadar..(ketawa penuh kemenangan)
Bel pun berbunyi dan semua siswa-siswi pada masuk dikelas masing- masing sambil menunggu guru datang. Ketika pelajaran Bahasa Indonesia, Bu guru memberikan tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok. Semua anak murid di kelas IA 1 itu sudah ditentukan kelompok mereka masing-masing. Geng Selena itu satu kelompok dengan Yudha dan Rasyad. Dan mereka pada menolak sekelompok dengan Yudha dan Rasyad. Sambil berkata…
Yuki : duuhh aku nggak mau deh sekelompok dengan si miskin itu..ihh (memandang dengan jijiknya)
Yang lain juga ikut memprotes kepada Bu guru. Tapi usaha mereka hanya sia- sia dan mereka harus menerima keputusan itu dengan berat hati.
Ketika pulang sekolah geng Selena pada ngumpul dikelas dan merundingkan dimana akan mengerjakan tugas itu.
Emma : jadi kita belajar di rumah siapa ne???
Ajeng : emm gue gak mau ya belajar di rumah si miskin itu (sambil menunjuk kepada Yudha dan Rasyad)
Selena : Gimana kalau di rumah gue aja?
Semua : SETUJU!!!!!!!
Tiba- tiba dari belakang Yudha dan Rasyad datang dan menanyakan di rumah siapa untuk mengerjakan tugas itu.
Yudha : emm Lena..bagaimana keputusannya???? Kita belajar dimana????
Selena : Di rumah gue,,kalau di rumah loe bisa berkuman badan gue..(meremehkan)
Yudha : emm yaudah,,kami setuju aja kug (sambil tersenyum)

Setelah itu meraka langsung kerumah Selena. Sesampai nya di rumah Selena…
Yuki dan Selena : kami udah pulang mam..(sambil sedikit teriak)
(mama yang datang dari kamar langsung menyambut anak nya dengan wajah ceria)
Mama : iya-iya..emm ada acara apa ini kug rame banget??(terlihat kebingungan)
Yuki : kami mau belajar kelompok mam..
Mama : oowhh..ya udah silahkan duduk,,.anggap aja rumah sendiri,,
Ki,,beri minum dan makanan temannya..pasti pada haus dan lapar tuh..
Yuki : ya mam..
Semua : (secara bersamaan) makasih ya tante..
Mama: emm ya..ehh,,ini Ajeng anak Pak Dharma dan Emma anak Pak Porter yah..????
Ajeng dan Emma : iya tante..
Mama : emm titip salam yah buat keluarga kalian..lho????ne siapa yah?????(menunjuk kearah Yudha dan Rasyad)
Rasyad : emm kami teman sekelasnya Selena tante..(sambil tersenyum)
Mama : owh..
Yuki : minuman dan makanannya sudah tersedia di ruang tengah,,silahkan kesana ya…emm mam kami ke ruang tengah dulu yah..
Mama : ya sayang..belajar yang rajin ya..selamat belajar..(tersenyum)
Yuki : ya mam.. terima kasih mama (sambil tersenyum)
Sewaktu mereka belajar bersama mereka selalu menghina Yudha dan Rasyad tapi mereka hanya diam tidak mau melawan. Tugas itu pun selesai dikerjakan dan tiba- tiba Selena menyuruh Yudha dan Justi pulang..
Selena : udah siap kan???? Mending sekarang kalian pergi deh..dah bosan gue lihat wajah kalian..(wajah angkuh dan sambil mengibaskan tangan)
Ajeng, Yukidan Emma : iya..pergi sana..(sambil mengibaskan tangan mereka)

Lalu Yudha dan Rasyad langsung pergi meninggalkan mereka. Hari sudah sore,,Emma dan Ajeng pun pulang dan berpamitan dengan mama Selena dan Yuki..
Emma dan Ajeng : pamit dulu tante..
Mama : ya…hati- hati ya nak..
Ajeng : ya tante..(sambil berjalan keluar menuju mobilnya)

Keesokan harinya disekolah Yuki dan Selena dapat kabar kalau keluarganya bangkrut karena mama Selena ditipu oleh orang dan mau tak mau harus mengadaikan semua harta miliknya. Dan Selena tiba- tiba panik dan pulang dengan terburu- buru. Setiba di rumah mereka langsung menanyakan kepastian kabar itu dan berharap kabar itu tidak terjadi…
Selena : mama benar kita bangkrut??? Kenapa bisa terjadi mam??(sambil masih tak percaya dan menangis)
Mama : ya nak..kita sudah bangkrut dan kita tidak punya harta lagi..kita juga harus pindah dari rumah yang sudah kita tempati selama ini (sambil menangis dan pasrah )
Selena dan Yuki : (secara bersamaan ) what?? Kita bangkrut mam??(kaget tak percaya)
Mama : ya nak..kita sekarang miskin tak punya apa- apa lagi..dan kita harus cepat- cepat pindah dari sini..tapi mama dah cariin rumah yang akan kita tempati..
Yuki : dimana mam??
Mama : di jln tanjung sari
Yuki dan Selena : itu kan tempat permukiman kumuh mam,,
Yuki : emm itu kan dekat rumah Yudha dan Rasyad??
Mama : ya sudahlah..mau gimana lagi nak?? Nasi telah menjadi bubur (pasrah)

Berita jatuh miskin keluarga Selena sudah cepat menyebar. Keesokan hari di sekolah. Yuki dan Selena berjalan dengan wajah yang murung dan malu. Tiba- tiba Emma dan Ajeng sahabat meraka menyapa…
Ajeng : emm kabar-kabar nya keluarga kalian bangkrut ya??(agak meremehkan)
Yuki : ya jeng..tapi kalian berdua masih mau berteman sama kami kan walaupun kami banagkrut dan jatuh miskin?????(sedih dan mencoba berharap)
Ajeng : emm gimana ya?? Tapi kayaknya gak deh..kita-kita mana level berteman sama orang miskin seperti kalian berdua..hahaha (merasa puas dan sambil mengejek)
Selena : emm.. ma, lo masi mau kan berteman sama kita berdua..lo kan sahabat gue yang bisa ngertiin gue selama ini?????(masih berharap)
Emma : duuhh sorry ya lena..gue paling anti tuh berteman sama orang miskin dan mungkin kita berdua bukan teman yang tepat bagi kalian,,haha (sambil mengejek dan berlalu begitu aja)
(tiba- tiba Yudha dan Rasyad datang dari belakang dan menghalangi jalan Emma dan Ajeng)
Rasyad : koq kalian pada menghina mereka berdua seh?? Kalian kan sahabatnya?? Aturannya kalian menghibur mereka bukan menghina kayak begini??????
Ajeng : eh lo!! Jangan sok ngajarin kita- kita ya..dan asalkan lo tahu kalau mereka bukanlah sahabat kami lagi..NGERTI!!!!!!(sambil melotot)
Yudha : tapi..kalian gak bisa gitu dunk?????
Emma : terserah kami dunk..kami pengen berteman sama siapa yang kami ingini???? Ya gak jeng??
Ajeng : that’s right ma..(sambil menunjukkan jempol kepada Emma dan sambil berlalu begitu aja)
Sedangkan Selena masih sedih dengan prilaku sahabatnya. Yudha berusaha menghibur..
Yudha : sudahlah Lena..mereka itu bukan sahabat yang baik dan relakan aja mereka pergi..(mencoba menyemangatkan selena kembali)
Selena : ya Yud..makasih ya kalian berdua sudah mau membela kami dan kami juga minta maap atas prilaku jelek kami selama ini terhadap kalian.
Rasyad : emm kami dah maapin sejak dulu kuq??(tersenyum)
Yuki : gue juga minta maap ya?? Gue juga banyak salah sama kalian semua (dengan wajah muram)
Yudha : yayaya ki..sekarang kalian jangan pada muram gitu?? Jelek tau..hehehe(sambil menggoda) sekarang kita masuk ke kelas yuk..
Selena dan Yuki : ah..kamu bisa aja..yuk yuk yuk (sambil tersenyum dan senang dapat teman yang sangat baik seperti Yudha dan Rasyad)
Akhirnya mereka masuk ke kelas dan mereka berempat menjadi sahabat yang saling mengerti satu sama lain. Selena dan Yuki juga telah berjanji kepada diri mereka masing- masing kalau mereka tidak akan mengulangi kesalahan mereka yang dulu lagi dan mencoba merubah sifat mereka menjadi orang yang baik dan disenangi sama teman- teman yang lain… THE END
Judul : Jadilah Diri Sendiri 
BABAK I

(ketika semua sudah lengkap, maka narator masuk ke panggung dan mulai bercerita)
Narator : alkisah di sebuah hutan terdapat seorang tukang batu yang pemalas, suka mengeluh dan selalu tidak puas dengan dirinya sendiri.

Tukang Batu : aduh… hari ini aku harus bekerja. Pasti nanti capek sekali. Enakan aq duduk – duduk dulu. (duduk di sebuah batu)

Batu : (bergerak – gerak)wadow … sakit tau ! (Sambil marah-marah).Bau lagi! Kentut ya? (sambil menutup hidung)

Tukang Batu : (Terkejut dan takut) Maaf, dikit. Lho, batu kok bisa ngomong ?

Batu : ini kan Cuma drama

Tukang Batu : O…….

Batu : Awas ! (mengancam dan mengacung – acungkan kepalanya)
(Tukang batu pun ketakutan lalu melihat-lihat sekeliling, mencari tempat untuk bersandar. Kemudian dia melihat  pohon dibelakangnya)

Tukang Batu : kebetulan ada pohon. Bisa bersandar nih!

Pohon : aduuuuuuuuuh.. hati – hati dong, lecet neh.

Tukang Batu : (Terkejut) Lho kok pohon juga bisa ngomong?

Pohon : Wah menghina ya. Aku adalah pohon ajaib. Aku bisa melakukan apa saja. Bahkan aku bisa menyanyi dan menari (menyombongkan diri)

Tukang Batu : masak sih ?
(pertama –tama pohon menyanyi seriosa dan tukang batupun menutup kupingnya karena suara  pohon yang melengking dan jelek. Lalu mulai menari. Setelah selesai, tukang batu hanya bisa terkejut)

Tukang Batu : Wah… pohon yang aneh. (menggeleng-gelengkan kepala sambil pergi meninggalkan pohon itu)

BABAK II

Narator : (ketika narator masuk, semua menjadi patung dengan gaya yang aneh). Lalu datanglah sebuah matahari yang sinarnya sangat panas menyengat.

Tukang Batu : wah….. panas sekali ya! (sambil sesekali mengipasi dirinya. Lalu mengusap keringatnya dengan sapu tanggan nya dan tidak sengaja memerasnya di sebelah batu)

Batu : Wadooooooooooooooooooow ! hei, jangan disini dong tukan batu! Uda keringatnya bau asem lagi. (sambil menutup hidung)

Tukang Batu : (Terkejut) maaf. Eh emangnya batu punya hidung ya?

Batu : idiiiiiiih . sebel deh . ini kan Cuma bo’ong-boongan tau !

Tukang batu : (Pergi menjauh ) Pemarah sekali si batu itu . tapi memang panas sekal. Ini pasti karena si matahari itu.

Matahari : Ha….ha…ha. ya aku yang menyebabkan panas ini.. ha….. ha…ha (Logat batak)

Tukang Batu : (menutup hidung karena bau) wah, enak sekali ya menjadi matahari. Bisa member panas tapi dia sendiri tidak kepanasan.

Matahari : iya dong. Aku gitu loh (sambil bergaya fungky)

Tukang Batu : (berfikir lalau dapat ide). Hmmmmmm matahari, bagaimana kalau kita bertukar tempat saja. Aku menjadi matahari, dan kamu menjadi Tukang Batu. Bagaimana?

Matahari : (Tampak berfikir). Bagaimana ya? Baiklah, tapi ada syaratnya?

Tukang Batu : apa syaratnya? (penasaran)

Matahari : Kau harus member aku sepiring nasi dengan lauknya. Bagaimana? Hahahahaha…

Tukang Batu :  Itu sih gampang.

Matahari : eiiitt tunggu dulu. Sepiring nasi dengan lauk sate,gulai,soto,ayam goring,ayam bakar,ikan gurami,capcai,telor dadar, telor mata sapi yang melirik ke kiri. Ok?

Tukang Batu : haaaa! (terkejut) banyak sekali! Tapi baiklah. Sebentar ya!
(Tukang Batu pulang ke rumahnya untuk mengambil makanan yang di minta matahari, sedangkan matahari sudah lapar dan ingin segera mencicipi masakan tersebut. Tak lama kemudian Tukang Batu masuk sambil membawa masakan yang dijanjikannya)

Tukang Batu : nih !

Matahari : bah! Dimana pila sambal terasinya?

Tukang Batu : sambal terasi?  Tadi kan kamu tidak minta?

Matahari : wah-wah-wah… hei penonton, enak gak klo kita makan tanpa sambal terasi? (Tanya ke penonton). Nah, dengar tidak, semua orang setuju kalau tanpa sambal, makanan kita jadi tidak enak.
(Dengan terpaksa, tukang batu membuat sambal di atas batu)

Batu : Wadooooooooow. Aduh. Kamu lagi, kamu lagi. Seneng pula kau menggangu aku. Liat nih gara-gara kamu…. Kepalaku jadi benzol-benzol. Lho kok aku jadi logat batak juga sih (marah-marah sambil menunjukan kepalanya yang benjol)
Tukang Batu     : maaf…

Batu : Awas  ya!
(Lalu mereka berdua berganti kostum, dan naratorpun masuk)

BABAK III

Narator : akhirnya tukang batu itupun menjadi sebuah matahari. Dan si matahari berubah menjadi seorang tukang batu. Haaa…haa…ha,,

Matahari : Maaf bu. Itu kan ketawa aku. Kok ibu zadi ikut-ikutan ketawa seperti itu.

Narator : (malu) Maaf… (lalu pergi)

Tukang Batu : Asyiiiiiiik! Ahirnya aku menjadi matahari.

Batu : Wadoooow. Jangan dekat-dekat dong! panas sekali! jauh-jauh sana! Awas!
(tukang batupun takut dan menjauh ke arah  pohon)

Pohon : Hei… pergi sana… jangan dekat-dekat. Panas nih. Kalau tidak Ciaatt (berpose silat, meniru gaya hewan : elang menyambar, ular mencaplok, dan harimau mencengkram)

Tuakang Batu : iya……iya. Dasar batu dan pohon-pohon pemarah. Ah sudahlah. Tapi enak sekali menjadi matahari.
(Lalu datanglah sebuah awan hitam, yang terus mengejar matahari dan berdiri di depannya. Tukang batupun jengkel)

Tuakang Batu : Hei…. Awan hitam. Panggungnya kan masih luas. Kenapa sih, selalu ada di depanku?

Awan Hiatm : Hei matahari, kamu tidak tahu siapa aku ya?. Aku ini awan hitam. Sebentar lagi, aku akan menurunkan hujan. Makanya kamu harus sembunyi dulu.

Tukang Batu : O………. Begitu ya?

Awan Hitam : Iya. Masak tidak tau sih
(Tukang batu menggeleng-geleng)

Tukang Batu : (Berfikir) wah enak dong menjadi awan hitam (Berkata dengan dirinya sendiri). Eh awan hitam, mau tukaran tempat tidak. Aku menjadi awan hitam dan kamu menjadi matahari. Bagaimana?
(ketika awan hitam sedang berfikir, tiba-tiba narator datang)

Awan Hitam : Bu narator, kok sudah muncul sih. Kan belum waktunya?

Narator : lho iya ya? Wah bilang dong dari tadi, kalau belum saatnya muncul. Maaf para penonton. Kalian sih, jadi malu nih. (marah-marah sambil menyalakan mereka berdua)

Tukang Batu : bagaimana?

Awan Hitam : Hmmmmmmm…. (mengeleng-geleng smabil berfikir) baiklah, tapi ada syaratnya?

Tukang Batu : (menggeleng-geleng sambil menghela nafas) apa syaratnya ?

Awan Hitam : Mudah… yaitu mobil mewah dan rumah mewah.

Tukang Batu : (terkejut) wah itu sih susah. Eh… tapi tunggu dulu. (Tukang Batu masuk ke dalam. Lalu keluar lagi sambil membawa mobil-mobilan dan rumah-rumahan). Bagaimana  kalau mobil-mobilan dan rumah-rumahan mewah?

Awan Hitam : (terkejut) apa! (mengeleng-geleng) baiklah. Terpaksa!
(lalu mereka bertukar tempat,tiba-tiba datang ibu narator. Semua menjadi patung. Tapi ibu narator lama tidak ngomong-ngomong)

Batu : Bu…. Ibu narator. Kok tidak ngomong-ngomong ya?

Narator : siapa bilang saya mau ngomong. Saya kan Cuma mau nampang doing. (sambil melambai-lambaikan tangan ke penonton)
Semua Personil : Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…..!

Narator : kenapa sih sirik aja. Memangnya tidak boleh. (pergi sambil ngomel-ngomel)

Tukang Batu : asyiiik. Sekarang aku menjadi awan hitam. Aku bisa menutup-nutupi matahari. Oh ya, aku juga bisa membuat hujan yang sanggat lebat. Ha…..ha….ha…
(tiba-tiba matahari yang menjadi tukang batu datang)

Matahari : he..he…  itu kan ketawa aku

Tukang Batu : maaf. Wah sekarang aku mau menurunkan hujan yang sangat lebat. Wuuuuuuuuuuuuus (sambil menendang-nendang tumbuhan kecil. Lalu datang seseorang yang tertarik angin. Trus datang lagi orang berpayung, yang payungnya sampai rusak,menghadap ke atas)

Tukang Batu : asyiiik. Aku berkuasa sekarang.

Tukang Batu : ha………..(tiba-tiba ingat matahari yang marah bila ketawanya ditirukan). Ups. (tiba-tiba tukang batu heran melihat batu yang tidak bergeser sedikitpun). Hai, batu. Kok kamu tidak rusak sedikitpun?

Batu : Hai… awan hitam? Mikir dong! Aku kan Batu. Liat aku sangat kuat. (sambil memamerkan ototnya). Jadi aku tidak akan rusak.

Tukang Batu : o…….. begitu ya. (berfikir). Hmmmm.. ngomong-ngomong batu, mau tidak kita tukaran tempat?

Batu : Apa! (berteriak keras). Kamu fikir aku bodoh ya, bisa kamu suap seperti si matahari dan awan hitam.

Tukang Batu : Ayolah! Apapun syaratnya, aku akan penuhi! (sambil ketakutan)

Batu : tidak! (masih marah dan berteriak) enak saja!

Tukang Batu :Please!

Batu : Tidak

Tukang Batu : He, mau tidak? (marah sambil mencengkeram kerah baju si batu)
(Si batupun ketakutan)

Batu : eh.. iya deh kalau begitu. Jangan marah dong! Gitu saja marah! (merayu si tukang batu). Nih! (menyerahkan kostumnya)

Tukang Batu : sana pergi! Awas ya kembali lagi! (mengancam batu. Batupun ketakutan dan berlari). Asyiiik. Kasihan deh lo si batu,makanya jadi orang jangan galak-galak. Sekarang aku menjadi batu yang perkasa.
(Tak lama kemudian datanglah, si tukang batu yang sebenarnya si matahari)

Matahari : ha…….ha…..ha… bah hari yang sangat cerah untuk memulai pekerjaanku sebagai tukang batu. Kebetulan ada sebuah batu disini.
(matahari mulai memukul-mukulkan palunya)

Tukang Batu : aduuuuuuh. Matahari…… kenapa memukul aku?

Matahari : bah…. macam pula kau ini. Aku kan seorang tukang batu. Zadi pekerjaanku yya memecah batu.

Tukang Batu : O……………. tapi aku mati dong!

Matahari : ya……. Terserah kaulah. Siapa suruh zadi batu. (mulai memukul lagi)

Tukang Batu : Tunggu….! Aku mau jadi tukang batu lagi kalau begitu. Tukeran ya?

Matahari : Tidak mau ! (terus memukul-mukul)

Tukang Batu : tolong…..tolong…..tolong…. ibu narator kemana sih? Bu…. Ibu narator!

Matahari : ha……..ha…….ha
(Lama kemudian ibu narator datang sambil makan)

Tukang Batu : Bu…. Lama sekali sih. Tutup acaranya dong. Saya di pukulin terus nih!tolong!

Narator : (sambil tetap makan) iyaaaaaaa… cerewet amat sih, siapa suruh gak puas jadi diri sendiri.

Rabu, 01 April 2015

 
Kata kata Bijak
 Kata Bijak digunakan untuk menjelaskan suatu taraf kecerdasan yang implikasinya bisa dipadukan dengan norma dan kesopanan. Makadari itu, orang bijak adalah sebutan untuk orang-orang yang dianggap cerdas baik hati maupun fikirannya yang juga sering dijadikan tempat bertanya maupun meminta pendapat. Menelaah filosofi dibalik makna kata bijak, Kata-Kata Bijak adalah kata-kata yang mengandung nasehat tentang berbagai macam hal, baik kehidupan, percintaan, pendidikan, rumah tangga serta hal-hal lainnya yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya ada cetak tebal ataupun buku yang berisi tentang kumpulan kata-kata bijak yang bersumber dari tokoh terkemuka dunia. Tetapi akhir-akhir ini tidak terlalu sulit untuk menemukan kata-kata bijak, karena sudah beredar secara luas di dunia maya.

Untuk meramaikan treand yang sedang digandrungi saat ini, kami sebagai media yang berusaha selalu mengerti kebutuhan pembacanya, menyediakan berbagai macam jenis Kata kata Bijak juga terkadang berperan sebagai motifator tersembunyi bagi seseorang. Kata Kata Bijak tentang kehidupan yang berasal dari berbagai sumber. Untuk lebih jelasnya, silahkan simak ulasan di bawah ini :
kata bijak...
Kumpulan Kata Kata Bijak 2015
Kata Kata Bijak Update 2015
Nikmatilah hidup selama anda masih memilikinya dan terus belajar untuk bersyukur dengan keadaanmu.
Setinggi apapun ilmu agamamu, kau akan tetap sulit melangkah jika hatimu penuh dengan kerapuhan
IMPIAN memang tidak menjamin kesuksesan , tapi tanpa Impian jangan pernah Mimpi bisa sukses.
Semakin lama kejujuran total tertunda, semakin banyak juga tumpukan beban pikiran, rasa bersalah, serta ketakutan yang menghalangi kita.
Jangan membenci mereka yang mengatakan hal buruk tuk menjatuhkanmu, karena merekalah yang buatmu semakin kuat setiap hari.
Terkadang, kamu berpikir seseorang telah berubah tanpa kamu menyadari hal itu terjadi karena dia mulai bersikap dewasa.
kebesaran seseorang tidak diukur dari kekuatannya, tapi diukur dari bagaimana dia berdiri tegap setiap kali dia terjatuh.
Jadi dirimu sendiri agar ketika seseorang mencintai, kamu tak perlu takut jika dia akan temukan dirimu bukan orang yang ingin dia cintai.
Perasaan yang paling berbahaya adalah iri, karena iri hati melahirkan kebencian dan kebencian akan membunuhmu perlahan.
Tak peduli seperti apa hidupmu, kamu selalu punya pilihan untuk melihat dari sisi baiknya atau sisi buruknya.
Jangan berbahagia atas apa yang kita dapat, tetapi berbahagialah atas apa yang bisa kita bagikan.
Jangan selalu katakan "masih ada waktu" atau "nanti saja". Lakukan segera, gunakan waktumu dengan bijak.
Hidup terlalu singkat jika hanya menyesal. Hidup hanya sekali, namun jika digunakan dengan baik, sekali saja cukup!
Hidup ini bukan hanya mencari yang terbaik, namun lebih kepada menerima kenyataan bahwa kamu adalah kamu. Jadi dirimu sendiri.
Orang yang bijak adalah yang tahu siapa yang harus dia percaya. Orang yang lebih bijak adalah dia yang selalu bisa dipercaya.
Sadarilah, mengeluh tidak menyelesaikan apapun. Mengeluh hanya akan menambah beban dihati. Berhentilah mengeluh, segera bertindak!
Jangan jadikan kegagalan kemarin sebagai penghambat hari ini. Semangat untuk membuat hari esok lebih baik, melalui hari ini.
Perbuatan adalah cerminan isi hati. Jika hati dipenuhi kebaikan, maka sikap dan tindakan akan baik, pun sebaliknya.
Orang yang malas telah membuang kesempatan yang diberikan Tuhan, padahal Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia.
Jangan nilai orang dari masa lalunya karena kita semua sudah tidak hidup di sana. Semua orang bisa berubah, biarkan mereka membuktikannya.
Jadikan kepandaian sebagai kebahagiaan bersama, sehingga mampu meningkatkan rasa ikhlas tuk bersyukur atas kesuksesan.
Kadang kamu harus buat keputusan tuk mengalah, atau kamu akan kehilangan dia yang kamu cinta hanya karena kamu keras kepala.
Dalam cinta, ketika ada yang berbeda, jangan mencari siapa yang salah, karena kamu dan dia adalah tim yang sama dengan tujuan yang sama.
Orang yang bisa mengendalikan emosinya adalah pemenang hidup sejati.
Pengalaman bukan apa yang terjadi pada Anda, melainkan apa yang Anda lakukan atas apa yang terjadi pada Anda.
Sebenarnya tantangannya bukan me-manage waktu tapi me-manage diri kita sendiri.
Anda mengetahui apa yang sharusnya tidak dilakukan ketika Anda "gagal". Jadi Anda menciptakan pengetahuan baru dan itu bukan kegagalan.
Lebih mudah melakukan sesuatu dengan benar daripada menjelaskan mengapa Anda tidak melakukannya dengan benar.
Seringkali kamu ragu untuk mengucapkan apa yang ada dihatimu karena kamu tidak yakin dia akan mendengarkanmu.
Segala kegembiraan yang ada di dalam dunia ini datang dari tindakan kita untuk mementingkan orang lain.
Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita menyesali apa yang belum kita capai.
Pria, Jika wanita marah, ajaklah dia berbelanja atau ke salon. Niscaya amarahnya langsung hilang.
Meski disakiti berkali-kali, wanita bijak tetap bisa memafkan dan semakin tegar seperti batu karang.
Makanan enak yang ditawarkan ke pria yang sedang marah, akan memedam amarahnya.
Menangis mungkin bukan solusi tapi terkadang dapat menjadi obat penenang.
Wanita bijak seperti angsa diatas air. Anggun namun tetap bekerja. Tetap tegar meski terluka.
Jangan pikirkan kegagalan kemarin, hari ini sudah lain, sukses pasti diraih selama semangat masih menyengat.
Hati yg penuh syukur bukan saja merupakan kebajikan yg terbesar, melainkan merupakan induk dr segala kebajikan yang lain.
Wahai Yang Maha Lembut,manjakanlah hatiku yang sendiri ini, bahagiakanlah aku dalam pernikahan yang penuh cinta, yang mesra, yang setia.
Wahai Yang Maha Cinta, sandingkanlah aku dengan jiwa pilihan-Mu, yang karena kebaikanku - baikkanlah ia, tapi jika ia lebih baik - baikkanlah aku.
Bukan kemiskinan yang merendahkan, tapi hati yang menistai kebaikannya sendiri.

Semoga Kata Kata Bijak di atas bermanfaat untuk siapapun yang membacanya. Dan semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari apa yang baru saja dibaca, karena sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bisa mengambil hikmah dari apapun yang mereka temui dan menerapkannya untuk kehidupan yang lebih baik.
Puisi Persahabatan
Sahabat adalah harta yang tidak akan bisa dinilai dengan uang, perhiasan dan harta benda lainnya. Karena sahabat adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa kepada sebagian hambanya yang terpilih, hal inilah yang menyebabkan tidak semua orang diberi kesempatan untuk memiliki sahabat yang seiya sekata dan senasib sepenanggungan. Jika anda memang seseorang yang beruntung memiliki sahabat, jagalah sahabat anda, pupuk persahabatan anda agar semakin hangat. Karena dalam persahabatan pastinya akan ada masa dimana anda dan sahabat anda jenuh, marah dan konflik-konflik lainnya. Salah satu cara yang ampuh menjaga persahabatan anda adalah dengan rutin mengingat hari-hari istimewa sahabat anda, seperti hari lahirnya dan hari jadinya dengan pasangan. Dalam memperingati hari istimewa tersebut tidak dibutuhkan kado ataupun hadiah yang mewah dan mahal, mungkin sekedar Puisi Persahabatan pun cukup.

Karena puisi sebenarnya adalah curahan hati kita tentang sahabat, dan pasti sahabat juga akan terenyuh dibuatnya. Apalagi jika puisi persahabatan dibuat sendiri, pasti kesan yang dihasilkan akan lebih dalam. Tapi kalau memang anda tidak terlalu mahir membuat puisi, anda hanya perlu meluangkan sedikit waktu untuk mencari puisi yang cocok di internet. Karena saat ini banyak sekali puisi persahabatan  yang di publis di internet. Untuk itulah, kami sengaja mengumpulkan Puisi Persahabatan, selamat menikmati :

Puisi Persahabatan 2013
Puisi Persahabatan 2015
PERSAHABATAN


sahabat bagaikn tempatku berteduh..
bila diriku terkena air mata dalam kesedihanku,
disanalah diriku bisa berbagi dalam hidupku, yang tak pernah aku dapatkan d’tempat lain…
hanya sahabatlah yang mampu mengerti dan pahami,
apa yang sedang aku alami saat ni..

tanpa sahabat..
bagai jiwa yang terlepas dari ragaku..
membuat ragaku tak mampu bergerak dalam setiap langkahku..
persahabatan ini kan abadi..
meski d’dunia nih tak kan ada yang abadi..
KETIKA SAHABAT MENJADI CINTA

Kebahagian sebuah pertemnan kini
telah berubah menjadi keindahan sebuah kisah cinta. .
yang dulunya bertengkar sekarang menjadi damai akan hadirnya Cinta
dan pernah ada yang menyangka bahwa
Sebuah pertemanan bisa menjadi sebuah percintaan. . .

Dan mungkin semua orang tau,
Bahwa cinta itu berawal dari sebuah pertemanan. .

keindahan sebuah persahabatan lebih indah jika
di tambah dengan sebuah kisah Cinta antara dua makhluk
yang saling mengkasihi. . .
WAKTU YANG KAN MENJAWAB


Masih ingatkah saat kita bersama dahulu
Mengikat tali persahabatan dengan begitu erat..
Yang mungkin tak seorangpun bisa melepasnya.
Untuk memisahkan kita semua.

Namun detik demi detik kian berlalu.
Semua telah hilang di telan zaman.
Bagaikan dedaunan yang terurai tanah.
Yang tak bisa kembali seperti semula.

Saat hati ini teringat pada kalian
Saat itu pula air mata ini keluar menetes
Saat mata ini melihat semua kenangan
Saat itu pula ku ingin bersama kalian

Apakah kita masih mampu bersama..?
Bercanda dan tertawa seperti dahulu lagi.
Namun, apakah itu hanya sebatas angin yang kian berlalu ?
Cuma waktu yang bisa menjawab itu semua.
TENTANG AKU & KAMU, KAWAN


Kawan,
Taukah kamu berapa lama masa yang kita lewati bersama??
Aku tak ingin tau,
Karna kamu selamanya bagiku.....
Bersamamu,
Tangisku kan terurai menjadi tawa
Dukaku kan terpecah menjadi bahagia
Dan airmata yang terlanjur jatuh....
Takan berubah menjadi nestapa
Denganmu,kepenatanku tergilas sirna

Terkadang disatu waktu,
Prasangka pernah menjauhkanmu dariku
Tapi sungguh kawan,
Amarah takkan bisa bertahan lama dikalbuku
Kusadari aku terikat jauh kedalam hatimu

Ingatkah kawan,
Kita pernah duduk bersama
Melukis langit dengan impian
Tentang aku , kamu dan kehidupan......

BINTANG UNTUK SAHABAT

Malam nan suci dan sepi,
menarikku untuk keluar dari rumah.
Kupandangi Langit malam...
Ternyata bertaburkan Bintang yang tak terhitung jumlahnya.

Andaikan ku seorang Bidadari,
Kan kubawa diriku dan sahabatku untuk menari diatas sana.

Kuraih sebuah Bintang terindah,
dan kupersembahkan untuk sahabatku yang selalu menemaniku.

Jumat, 11 MEI 2012
MENANGISLAH SOBAT..

Tak bisa ungkap dengan kata apapun
Ini memang sangat membosankan
Ini begitu melelahkan
Bahkan, ini sangat menjengkelkan
Tubuh seakan beku dalam bongkahan es
Membeku tidak tahu kapan akan mencair

Yaa… itu benar sobat
Itu semua seperti sorot lampu panggung tanpa penonton
Menerangi tubuh di dalam kegelapan
Terdiam bisu tanpa senyum dan air mata
Ini sangat menyedihkan..
Namun.. ingatlah sobat..
Kau tidak sendiri
Kau tidak berdiri sendiri di kegelapan itu

Teteskanlah air matamu jika hatimu merasa terisak
Berteriaklah sepuasmu jika hatimu memanas
Karena itu lebih baik ku lihat
Dari pada kau terdiam kaku di bawah sorot lampu itu
Bagai seorang tokoh tanpa dialog.
BAHASA LANGIT

Gumpalan awan di langit biru
Bercerita kisah kita
Saat deras hujan bagai air mata
Dan cerah mentari jadi wajah kita

Warna pelangi di langit biru
Hanya jadi saksi bisu
Saksi kisah perjalananku denganmu
Saat perbedaan jadi keindahan

Langit pun berbahasa
Dan bersenandung ria
Lantunkan lagu rindu antara engkau dan aku
Oh Sahabat…

Langit pun berbahasa
Tanda bersuka cita
Sambut esok dimana kita kan slalu bersama
Selamanya…

Dan dengarlah, dengarlah slalu
Itulah semua tentang kita,
cerita bahasa langit…
SAHABAT TERBAIKKU

Sahabat ...
di saat kita nikmati kebersamaan banyak hal yang terlewat kan begitu saja
keceriaan, canda dan tawa semuanya mengalir begitu saja
waktu yang tersisah seolah tak mampu menampung nya dan waktu yang sangatlah singkat membuat ku teringat kepada mu sahabat ..

Semua kenangan - kenangan itu tak terasa ,pergi meninggalkan segala kegembiraan
serta canda dan tawa mu satu persatu hilang sekejap mata
ada beribu senyum saat terlintas memory yang dulu kala

Sahabat ...
semua yang pernah kita jalani hari demi hari , waktu demi waktu telah kita lalui semuanya.

Banyak hal yg pernah terjadi karena itulah jalan hidup yang kita miliki
kadang benci, kesal ,dan kecewa serta rasa senang dan sayang
sungguh luar biasa , apa yang telah kita lalui bersama ..

Ya Tuhan ...
jagalah dan lindungilah
sahabat-sahabat ku
karena mereka adalah sahabat terbaiku selamanya

# MY BEST FRIEND FOREVER


PAGE  1  -   2  -  Selanjutnya.....
Dalam persahabatan kitapasti akan dihadapkan pada masa-masa sulit dimana terkadang kata-kata tidak akan sanggup memperbaikinya, dan apabila saat itu datang yang perlu anda lakukan adalah bersabar dan introspeksi diri. Semoga puisi puisi persahabatn di atas bisa menjadi sebuah inspirasi maupun motivasi bagi anda yang mempunyai sebuah sahabat.

Kamis, 12 Maret 2015

Gadis Modern 

 karya Adlin Affandi merupakan salah satu drama dari antologi drama Indonesia 1931-1945 jilid 2. Naskah drama ini sangat menarik untuk dikaji karena mengandung nilai-nilai percintaan yang memandang kasta. Drama ini secara langsung maupun tidak langsung menggambarkan pola pikir gadis modern atau gadis kota yang materialistik. Jadi Adlin Affandi ketika membuat drama ini sudah berpikir kedepan atau sedikit lebih maju mengenai kriteria gadis modern  pada era yang akan datang. Padahal naskah drama ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1941 yang pada era tersebut mungkin para gadis masih mempunyai sikap penurut, jujur, tawadhu’, dan tidak memperioritaskan uang.
Disamping itu drama ini juga mengandung nilai-nilai kegigihan dari seorang lelaki dalam memepertahankan cintanya yang tulus dan sangat memegang komitmen. Hal yang menarik lainnya dari drama “Gadis Modern” adalah adanya sistem kasta yang sangat mendominasi jalannya cerita. Perbedaan antara juragan dan buruh terlihat sangat kontras dan dianggap sangat vital sehingga mempengaruhi cara sikap, pola pikir, karakter, perilaku dalam kehidupan para tokoh sehari-hari.
Pada umumnya teks drama pasti terdapat unsur-unsur yang tidak bisa dipisahkan dalam drama, yaitu tekstur dan struktur drama. Latar atau setting merupakan salah satu dari struktur drama. Latar drama pada dasarnya harus terdiri dari aspek waktu, aspek tempat, dan aspek suasana. Panuti Sudjiman mengatakan bahawa latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang dan suasana (1992: 46). Sumardjo dan Saini K.M. (1997: 76) mendefinisikan latar bukan bukan hanya menunjuk tempat, atau waktu tertentu, tetapi juga hal-hal yang hakiki dari suatu wilayah, sampai pada pemikiran rakyatnya, kegiatannya dan lain sebagainya. Namun dalam drama “Gadis Modern” ini aspek tempat hanya berdomisili pada ruang domestik atau ruang pribadi, sedangkan aspek waktu sudah teridentifikasi, meskipun tidak detil dan aspek suasana dapat ditangkap melalui dialog-dialog antar tokoh.
Adlin Affandi merupakan penulis naskah yang cerdik karena mampu menyajikan kisah cerita yang tanpa disadari mempunyai makna dalam dan serius dengan bahasa yang ringan dan sederhana. Drama “Gadis Modern” lebih tepat diklasifikasikan dalam drama komedi ringan, mengingat kisah drama tersebut mengenai “pertukaran posisi antara majikan dan buruhnya dalam sebuah percintaan”. Jadi penulis naskah menampilkan tema yang sedikit berbeda dengan tema-tema umum pada waktu itu.
Sesuai judul artikel ini yaitu “Penyajian Setting & Dominasi Aspek Ruang Domestik Dalam Cinta Berkasta “Gadis Modern”, maka penulis mengungkapkan definisi dari masing-masing kata berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata “penyajian” adalah cara menampilkan atau menyuguhkan sesuatu. Kata “dominasi” memiliki arti penguasaan oleh pihak yang lebih kuat terhadap yang lebih lemah. Kata “domestik” bermakna mengenai (bersifat) rumah tangga. Kata “kasta” yaitu golongan (tingkat atau derajat) manusia dalam bermasyarakat. Sedangkan kata “modern” bermakna sikap, cara berpikir dan cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman (terbaru).
Dari permasalahan di atas, penulis mengkaji struktur drama dengan menitikberatkan kajian pada setting atau latar dengan cara menggali lebih jauh mengenai penyajian aspek tempat, aspek waktu, dan aspek suasana oleh penulis naskah yang tegambar dalam drama “Gadis Modern” karya Adlin Affandi serta menarik makna dari aspek ruang domestik yang mendominasi latar tempat cerita tersebut.
**
Drama karya Adlin Affandi ini terdiri dari tiga babak. Babak pertama menceritakan tentang keadaan di dalam kantor pribadi Tuan Salim, si penanam getah. Di dalam kantor tersebut terdapat Tuan Salim dan Rustam anaknya yang sedang berbicara mengenai perkebunan getahnya, termasuk kuli-kulinya. Kemudian Tuan Salim mulai menyangkut-nyangkut tentang Engku Sastra, Ruslan anak tertua Tuan Salim akan disuruh ayahnya untuk mengantarkan kupon ke Medan, ke rumah Engku Sastra. Rupanya Tuan Salim mempunyai maksud lain di balik pengantaran kupon itu. Ruslan ingin dijodohkan ayahnya dengan Marriana, anak teman Tuan Salim, Engku Sastra. Kemudian Ruslan masuk di ruangan itu melihat adiknya, Rustam termenung, si Rustam pun menceritakan perintah ayahnya yang mengutus keduanya ke Medan untuk bertemu dengan Marriana. Tuan Salim tak lama kemudian masuk dan menyuruh Rustam keluar. Tuan Salim pun sedikit berdebat dengan Ruslan mengenai pengantaran kupon tersebut, namun ia tidak mau kalah. Ruslan mengatakan bahwa ia sebenarnya sudah bertunangan dengan Ijah, anak mandornya. Sang ayah marah besar, karena ia tak sudih melihat Ruslan dengan si Ijah yang hanya anak mandor, bawahannya sendiri. Ruslan dan Rustam tidak kehilangan akal, mereka berencana mengutus kuli-kulinya ke rumah Engku Sastra, yaitu Basiran dan Ardi untuk melakukan penyamaran sebagai diri mereka. Kuli-kuli tersebut dipaksa mereka, dan akhirnya setuju. Basiran dan Ardi pun diajari tata cara berperilaku, berkata-kata yang baik dan make-over dengan pakaian yang bagus.
Babak kedua memperlihatkan kondisi beranda rumah Engku Sastra dengan perkakas yang begitu modern. Kemudian tampak Marriana, si gadis modern duduk di kursi, dan masuklah Burhan, lelaki yang mencintai Anna. Burhan menyinggung soal perjodohan Marriana dengan Ruslan, Burhan nampaknya cemburu. Anna setuju dijodohkan dengan Ruslan karena hartanya, kekayaannya, kesenangan dan kemewahannya, bukan atas dasar cinta. Burhan berusaha meyakinkan Anna bahwa kebahagiaan itu atas dasar cinta, bukan uang. Tapi Anna rupanya gadis modern yang materialistik, semuanya ia pandang hanya dari segi uang. Engku Sastra pun pulang ke rumah dan menceritakan ke Anna bahwasanya Rustam dan Ruslan akan datang hari ini. Anna sangat antusias menyambutnya. Tak lama kemudian datanglah Basiran yang menyamar sebagai Rustam, dan Ardi sebagai Ruslan ke rumah itu. Keduanya disambut hangat oleh Anna dan ayahnya. Ardi merasakan sesuatu yang berbeda ketika bersalaman dengan Anna, ia terkagum dengan kemolekan Anna, sang gadis kota. Anna dan Ardi berbicara empat mata mengenai perjodohan mereka. Ardi tidak keberatan dengan hal itu, apalagi Anna, Ardi mengutarakan keadaan rumah dan gajinya yang rendah, tapi Anna berusaha menggombal, ia seakan-akan mau menerimanya asalkan menikah dengan Ruslan. Anna memang bermuka dua, satu sisi ia sangat materialis, tapi disisi lain ia berpura-pura memandang sesuatu berdasarkan cinta, bukan harta. Basiran pun mengajak Ardi lekas-lekas pulang.
Dalam babak terakhir terlihat suasana kantor Tuan Salim seperti babak pertama. Rustam menawarkan Ardi kepada ayahnya untuk menjadi asisten pribadi Ruslan. Tuan Salim pun menyutujuinya karena Ardi adalah kuli yang bisa baca-tulis. Ardi pun datang di kantor dengan pakaian bagus atas suruhan Rustam. Lalu datanglah Engku Sastra dengan putrinya. Anna pun menyapa Ardi yang dianggapnya Ruslan yang kebetulan berada di kantor. Ruslan tampak kebingungan. Akhirnya mereka disambut Ardi yang sedikit kuatir. Ardi menyuruh Ruslan dan Rustam yang seolah-olah keraninya keluar kantor. Kemudian masuklah Tuan Salim ke kantor, dan penyaraman pun sedikit demi sedikit terkuak. Akhirnya Ruslan yang asli pun diperkenalkan oleh ayahnya kepada Engku dan Anna sehingga suasana menjadi membingungkan. Anna mengetahui bahwa yang selama ini yang diharapkan tak lebih seorang bawahan. Anna pun mengingkari apa yang ia katakan dulu, ia tidak sudih dengan kuli. Tuan Salim disadarkan oleh Rustam bahwa selama ini Anna tidak tulus dengan Ruslan, karena hanya cinta pada hartanya. Ia membatalkan perjodohan dan Engku beserta putrinya marah dan merasa dipermalukan, akhirnya mereka kembali ke Medan. Ruslan berterima kasih pada adiknya dan Ardi, serta kembali ke pelukan Ijah.

Penyajian Setting (Latar) dalam Drama “Gadis Modern” Karya Adlin Affandi
Dalam sebuah karya sastra, setting cerita merupakan salah satu unsur penting yang ada dalam drama. Setting cerita merupakan tempat kejadian cerita atau latar cerita tidak berdiri sendiri, berhubungan dengan waktu dan ruang (Waluyo, 2002: 23). Dalam drama unsur ini sangatlah penting, selain sebagai bentuk penyimbolan terhadap sesuatu, latar cerita juga berfungsi sebagai penanda waktu (dapat berupa tanggal, tahun, bulan, pagi, siang, sore, malam), dan untuk memberikan kesan dramatis terhadap suatu peristiwa yang terjadi dalam cerita drama tersebut.
Adapun aspek ruang dalam drama “Gadis Modern” tergambar jelas pada narasi awal tiap babak, pada babak pertama :
Panggung merupakan kantor Tuan Salim. Perabot: di tengah sebuah meja, empat kursi, dan di tepi sedikit sebuah meja dengan buku-buku dan sebuah kursi; di dinding tergantung sebuah kalender dan sebuah sangkutan kopi.
Ketika layar diangkat, Salim masuk dari pintu bertongkat, sambil menyapu keringatnya. Dia duduk dikursi tengah, mengambil serutu dari kantungnya, lalu merokok. (Antologi drama jilid 2 hlm 119)
Adapun latar tempat pada babak kedua sebagi berikut :
Panggung merupakan beranda muka rumah Tuan Sastra. Perkakas diatur secara modern : di tengah 4 buah kursi yang berbantal, 1 buah meja, di sudut sebelah kiri dipan, lengkap dengan bantalnya, di sudut sebelah kanan lemari buku.
Waktu layar diangkat tampak Marriana, berpakaian secara modern dengan tangan kanannya dipegangnya sebuah tas tangan. Dia berjalan mondar-mandir sambil melihat sesekali ke jalan besar. Dia duduk di kursi, tetapi gelisah dan berdiri kembali. Pergi membuka lemari buku, dipegangnya sebuah buku, tetapi ditutupnya kembali lemari itu. (Antologi drama jilid 2 hlm 127)
Dan berikut adalah latar tempat pada babak terakhir :
Panggung dan perabot seperti babak pertama. Waktu layar diangkat tampak Ruslan menulis dengan tenang. Dia cuma memakai kemeja saja. Tak lama masuk Rustam dengan gembira. (Antologi drama 2 hlm 136)
Adlin Affandi menyajikan aspek tempat tersebut dalam ketiga babak hanya melalui narasi awal, karena semua peristiwa dalam drama hanya berlangsung dalam kedua ruang domestik tersebut, yaitu kantor Tuan Salim dan beranda rumah Engku Sastra. Jadi pengarang tidak perlu menjelaskan latar tempat  lagi di tengah atau akhir babak, karena drama ini hanya berkisar dan terfokus pada satu ruang domestik di tiap-tiap babak. Penyajian latar tempat hanya pada narasi dimungkinkan agar pembaca bisa mengetahui secara langsung di awal mengenai tempat cerita tersebut dilakukan, pembaca juga bisa lebih mudah dalam memahami cerita dengan adanya penyajian aspek tempat hanya pada narasi awal karena tempat peristiwa tidak mungkin melebar, serta dimungkinkan agar pembaca atau penonton selanjutnya bisa terfokus pada struktur dan tekstur drama yang lain sehingga benar-benar paham akan jalannya cerita dan menangkap nilai-nilai yang terkandung pada drama.
Dan pada hakikatnya drama “Gadis Modern” ini ditulis untuk dipentaskan, hal ini terbukti bahwa pengarang selalu menggunakan kalimat /pada waktu layar diangkat/ yang terdapat pada narasi sehingga mengindikasikan bahwa drama ini setting utamanya pasti di panggung pertunjukan. Namun dalam layar tersebut pengarang menyajikan settingan suatu tempat pribadi yang sangat detail gambaran kondisinya. Jadi pengarang sengaja hanya menfokuskan dua latar tempat jalannya cerita pada drama tersebut karena satu latar tempat pada tiap babak sudah mampu mewakili dan membawa jalannya cerita mulai dari pengantar hingga pada konflik yang timbul dan berakhir pada penyelesaian.
Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi, (Santosa, 2008). Latar waktu biasanya ditandai oleh menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, pagi, siang, malam, dan lain-lain, tetapi kadang pengarang hanya memberi rambu-rambu terjadinya peristiwa. Aspek waktu dalam latar dibagi menjadi dua.
Pertama, fable time (waktu cerita) yaitu waktu yang sebenarnya terjadi ketika cerita itu benar-benar dilakukan. Jadi waktu cerita pasti terjadi sebelum drama tersebut dibuat, bisa terjadi beberapa bulan atau tahun yang lalu. Waktu cerita selalu lebih lama dibanding waktu penceritaan. Dalam drama “Gadis Modern” pada babak pertama terdapat percakapan antara Salim dan Rustam,
Rustam : (Melihat arloji tangannya, berkata kepada dirinya sendiri) Sudah pukul 10, tempo untuk berhenti sebentar. (Mendekati ayahnya) Alangkah panasnya hari ini yah! Boleh jadi turun hujan malam ini .........
Salim : (melihat Rustam dengan tenang) Kau mau kemana sepagi ini? Kemana kau tadi? (Antologi drama jilid 2 hlm 119)

Selanjutnya terdapat pada percakapan berikut ini :

Salim : Cuma 4 hektar saja. Besok sudah datang bibit baru dari kantor Landbow. Sebab itu ayah mau, supaya kebun yang baru itu lekas siap . kalau kuli-kuli itu bekerja dengan baik, barangkali dalam tempo 2 minggu lagi, akan dapat kita mulai bertanam. Mengapa si Ruslan belum juga pulang sampai begini hari? Ke mana dia? Lihatlah (pergi ke meja tulis) buku-bukunya masih terbuka juga.
Rustam : (Berdiri) Dia pergi tadi ke Siboga. Boleh jadi senbentar lagi dia kembali. (melihat ke kalender) Ayah, besok hari minggu, hari vrij. Bolehkah saya pakai motor itu? Saya hendak ke Siboga bersama dengan abang. (Antologi drama jilid 2 hlm 119)

Adapun pada babak kedua terdapat percakapan antar Basiran dan Ardi.

Anna : apa Yah? Si Ruslan akan datang? Pukul berapa datangnya?
Sastra : Ya, mereka akan datang. Si Ruslan dan si Rustam akan datang pagi ini juga .......(Antologi drama jilid 2 hlm 129)
..........
Basiran : kau betul-betul keledai. Semalam sudah diajari si Ruslan dan si Rustam dua jam lamanya. Turut saja apa yang dikatakan mereka. Habis perkara!
Ardi : Hampir-hampir lupa aku yang diajarkan mereka semalam ........(Antologi drama jilid 2 hlm 132)
Pada babak terakhir aspek waktu sedikit bisa terdeteksi melalui percakapan berikut :
Sastra : betul itu Anna. Patutlah tertarik betul hatiku hendak kemari. Rupanya Engku Salim di dalam sakit sudah berapa lamakah sakitnya?
Ardi : baru semalam.(antologi drama jilid 2 hlm 141)
Dari cuplikan percakapan diatas dapat disimpulkan bahwa latar waktu dalam drama “Gadis Modern” babak pertama adalah pagi hari pada hari sabtu. Pada babak kedua juga digambarkan pada pagi hari. Adapun pada babak ketiga tidak dinyatakan secara jelas, namun pembaca dapat menebak bahwa kejadian tersebut terjadi antara pagi atau siang hari. Pengarang tidak menuliskan latar waktu secara langsung dan detil seperti pada latar tempat, akan tetapi pengarang menyajikan latar waktu melalui dialog-dialog antar tokoh dan memberi kesempatan pembaca untuk menyimpulkannya. Pengarang tidak memberi indikasi latar waktu secara detil dimungkinkan karena latar waktu dalam drama ini dianggap tidak berperan penting dalam keberhasilan jalannya cerita dan agar sutradara mampu mengeksplorasi lebih lanjut mengenai waktu cerita dalam pementasan drama “Gadis Modern” sehingga drama ini bisa fleksibel dan tidak terpaku pada satu pementasan yaitu ketika drama ini diterbitkan, pada tahun 1941-an tetapi juga dapat dipertujukkan pada tahun-tahun berikutnya.
Kedua, narrative time (waktu penceritaan) yaitu waktu yang terjadi ketika cerita itu dibuat oleh pengarang. Jadi waktu cerita terjadi ketika peristiwa yang sebenarnya sudah dilakukan. Oleh karena itu bisa jadi cerita yang terjadi selama bertahun-tahun disampaikan hanya dalam beberapa jam. Dalam drama tersebut tidak disinggung sama sekali mengenai waktu penceritaan yang dilakukan oleh pengarang cerita, hanya disebutkan waktu cerita dan itupun tidak secara langsung dan detil.
Selanjutnya adalah aspek suasana. Drama “Gadis Modern” memiliki latar suasana yang cukup jelas disajikan melalui dialog dan teks samping. Suasana yang muncul dalam drama “Gadis Modern” antara lain adalah heran, marah, tegang, hormat dan segan, menggebu-gebu, bingung, romantis, dan penyesalan. Karena drama ini berjenis komedi ringan maka suasana dibuat ringan antara lucu atau kocak dan serius dan sedemikian rupa memancing emosi penonton maupun pembaca naskah drama karena di balik humor tersebut terdapat makna sangat berharga yang ditawarkan oleh pengarang.
Berikut adalah penyajihan aspek suasana melalui teks samping naskah.
Rustam : (Heran) Haa. Apa? Abang hendak ke Medan? Tentu dia tidak mau ke rumah om Sastra. Bukankah biasanya kupon itu dikirim saja dengan pos? Ayah ada-ada saja. (hlm. 120)
..........
Basiran : jangan main-main Tuan, mana mau Tuan membawa kami ke Medan.
Rustam : saya tak mau main-main dan berbohong.
(Basiran dan Ardi tercengang). (hlm. 125)
..........
Salim : (Marah) Hari-hari mengobrol saja. Bukankah kau sudah minum kopi Rustam? ..... (hlm. 137)
.........
Basiran : getah ini sudah cukup bagus untuk dibawa Tuan besar ke pabrik.
Salim : apa katamu? Aku mesti membawa getah ini ke pabrik? Kau sudah berani kurang ajar padaku?
            (Basiran takut, mundur dua langkah).
Rustam : bukan Ayah, tetapi dia yang mesti membawanya.
Salim : (Bertambah marah) Aku bukan bicara kepadamu, tetapi kepada si Basiran ....... (hlm. 137)
...........
Sastra : (Heran) Si Basiran... kapankah dia bernama si Basiran? Bukankah itu si Rustam ......
Basiran : (Pura-pura bodoh) Apa? (hlm. 140)
............
Salim : seumur hidup saya belum lagi pernah saya mendapat penyakit yang menular. Penyakit apa katanya?
Satra : (Gugup) Katanya, Engku mendapat penyakit gila. (hlm. 143)
...........
Salim : ya, tapi.. (Marah) Mengapa kamu berdua berani memperolok-olokkan ayahmu, Engku Satra, dan  Anna?
Rustam : untuk memperlihatkan apa artinya cinta bagi Anna. Lihat ........
Anna : (Marah) bnar-benar rumah gila disini! Ayoh, ayah mari pergi lekas supaya jangan ketularan.
Sastra : macam apa ini Engku Salim? Engku benar-benar gila mau dipermainkan anak Engku. Engku membiarkan kami dipermalukan seperti ini betul-betul anak gila, bapak gila disini saya lihat.
Salim : Ya.... (Sekonyong-konyong geram menghentakkan tongkatnya) Gila boleh jadi, tapi bukan gila harta. ......... (hlm. 145)

Penyajian aspek suasana melalui teks samping oleh pengarang mempunyai beberapa kelebihan yaitu pertama, pembaca dapat mengetahui secara langsung suasana hati dan perasaan tokoh. Kedua, pihak sutradara atau pemeran cerita dapat mengetahui secara langsung ekspresi atau nada bicara yang akan ditampilkan dalam pertunjukkan karena terkadang bahasa tulisan yang dimaksud pengarang tidak sesuai dengan bahasa lisan yang dituturkan para pemain sehingga terjadi kesalahan presepsi. Oleh sebab itu pengarang banyak menggunakan teks samping untuk membantu menghidupkan suasana.
Selanjutnya penyajihan aspek suasana melalui dialog antar tokoh sebagai berikut :
Rustam : hmm, dari tadi sudah kuterka, akan kesitu jadinya. Kalau abang nanti dipertunangkan dengan si Anna, bagaimana dengan si Ijah? Abang sudah bertunanga dengan Ijah anak mandur kita.
Ruslan :  (Berdiri) aku akan dikawinkan dengan si Anna? Tidak! Aku membantah! Aku tidak mau. (hlm. 121)
“Tergambar suasana marah dari tokoh Ruslan”.
..........
Ruslan : (marah) Aku, aku kau katakan penakut? Segala perbuatan akan kuperbuat, jika atas nama Ijah yang kucintai itu, walaupun jiwaku akan melayang.
Rustam : Bravo! Kalau si Ijah mendengar ini, tentu akan merah padam warna mukanya. Tentu dia akan bersuka ria dan berlebih-lebihan kasih sayangnya kepada abang. (hlm. 124)
“Tergambar suasana romantisme dan kesetiaan dari tokoh Ruslan kepada si Ijah, dan suasana yang menggebu-gebu mensupport Ruslan dari tokoh Rustam”.
.........
Anna : ............... Ayah lihat pakaian saya yang begini sudah cukupkah bagusnya untuk menerima si Ruslan? Perlukah saya bertukar pakaian?
Sastra : bukan pakaian yang ayah katakan, tetapi membersihkan perkakas rumah kita. (memebetulkan kain meja)
Anna : pakaian saya nanti kotor! Saya tidak mau! Ibu saja Ayah suruh! (Membetulkan sanggulnya) Ayah, bagaimanakah rupa si Ruslan sekarang? Cantikkah di? Aksikah dia? (hlm. 129)
“Tergambar suasana gembira, penasaran, dan agak nervous dari tokoh Anna ketika akan bertemu si Ruslan”.
.........
Ardi : perasaanku sewaktu memasuki rumah ini amat berlainan dari biasanya. Tidakkah kau lihat tadi bagaimana encik itu melihat aku? Tak pernah aku berjumpa dengan anak perempuan seperti dia.
Basiran : nah ada susahnya, tentu ada pula senangnya.
Ardi : sewaktu encik itu memegang tanganku, seperti aku tidak ada lagi di dunia ini.
Basiran : bukan kau saja, akupun juga.
Ardi : Tertarik hatiku melihat dia ....... (hlm. 132)
“Tergambar suasana kagum, jatuh cinta, dan kasmaran dari tokoh Ardi kepada Anna”.
...........
Anna : tak usah di dalam pondok, walaupun beratapkan langit, berlantaikan bumi, aku takkan merasa keberatan. Aku tidak mengharap tinggal di istana yang indah, dalam rumah yang besar.
Ardi : dan gajiku Cuma tiga puluh-lima sen sehari. Maklumlah encik.
Anna : walaupun kau tidak bekerja, tidak berpendapatan satu sen pun, aku masih tetap setia kepadamu. Aku tidak akan suka hidup berlebih-lebihan seperti orang lain.
Ardi : apa yang kau katakan ini memang sebenarnya. Kau nanti menyesal. (hlm. 133)
“Tergambar suasana tenang, tentram dan terlarut dalam keromantisan antara tokoh Anna dan Ardi (yang menyamar jadi Ruslan)”
...........
Sastra : ah, ya, hendaknya kita datang ke sana jangan ditentukan harinya. Kita datang tiba-tiba saja. Dengan jalan begitu mereka tidak usah bersusah payah menyediakan ini itu.
Ardi : Haaaaaa.. pening kepalaku rasany. (Memegang kepalanya) Om bermaksud datang tiba-tiba. Apa yang akan kuperbuat? (hlm. 135-136)
“Tergambar suasana terkejut atau shock dari tokoh Ardi)
...........
Salim : saya tidak menyangka Engku Satra dan Marianna akan seperti itu. Macam-macam! Aku dikatakannya gila.
Rustam : saya sudah menolong Abang dari bahaya besar, dari pelukan gadis yang main modern. .....
Ruslan : ....... terima kasih, Rustam. Si Ijah pun berterima kasih juga.
Ardi : harap Tuan jangan lupa kepada saya. (hlm. 145)
“Tergambar suasana penyesalan dari tokoh Salim, suasana gembira dan lega dari tokoh lainnya”

Penyajian aspek suasana melalui tekstur dialog oleh pengarang disajikan secara tersirat. Namun pengarang sudah pasti memilah dan memilih dialog-dialog yang mampu dicerna dan dibayangkan suasananya oleh pembaca, jadi suasana tersebut secara serta-merta ditimbulkan implisit dalam dialog sehingga nada dan suasana yang dialami oleh tokoh bisa terbaca meskipun pengarang tidak memberikan penjelasan atau keterangan suasana secara eksplisit. Dan penyajian aspek suasana dalam dialog juga mampu mengasah tingkat sensitivitas pemain drama untuk melakukan improvisasi dalam intonasi, jeda, nada, dan lain-lain ketika acting. Jadi pengarang naskah sudah cerdik dalam menulis naskahnya, karena disamping menyuguhkan aspek suasana melalui teks samping yang otomatis suasana tersebut telah tergambar jelas dan terpaku pada intuisi pengarang, namun pengarang juga menyuguhkannya dalam bentuk dialog yang nota bene memberi kebebasan bagi pemeran atau pembaca dalam membayangkan dan mengeksplorasi kemampuan pemahamannya yang secara tidak sadari sudah dikontrol dan dibatasi dengan pemilihan kalimat dan diksi oleh pengarang naskah.

Pemaknaan Dominasi Aspek Ruang Domestik dalam Drama “Gadis Modern”
            Pada analisis latar tempat di atas dan berdasarkan narasi ketiga babak pada naskah drama “Gadis Modern” karya Adlin Affandi dalam antologi drama Indonesia jilid 2 (1931-1945) sudah teridentifikasi bahwa keseluruhan latar tempat dalam drama ini adalah dalam ruang domestik atau ruang personal. Hal ini terbukti pada narasi awal babak pertama menunjukkan bahwa latar tempat adalah kantor pribadi Tuan salim, babak kedua menunjukkan latar tempat terjadi di beranda muka rumah Engku Sastra, dan pada babak ketiga latar tempat kembali di kantor Tuan Salim. Hal ini sengaja dibuat sedemikian oleh pengarang agar pembaca dan penonton terfokus pada satu ruang saja di tiap babak. Disamping itu pengarang lebih memilih ruang-ruang domestik atau ruang pribadi sebagai latar tempat yang mendominasi drama ini dimungkinkan agar pembicaraan, sikap, dan perilaku hanya boleh terjadi dan dilakukan oleh orang-orang tertentu saja, artinya ruang-ruang tersebut hanya bisa dimasuki oleh golongan tertentu, tidak sembarang orang bisa memasukinya. Dalam ruang domestik tersebut, pengarang juga memberi banyak aturan dan batasan untuk masuk dan berada dalam ruangan itu. Sesuai dengan nuansa drama ini yang mengenal adanya kasta dan dalam drama ini kasta membawa pengaruh yang sangat besar dalam berperilaku dan berbicara. Seperti dalam cuplikan dialog berikut ini :
(Basiran seorang kuli, membawa kaleng tempat getah di tangannya masuk dengan hormatnya, menghadapi mereka)
Basiran : (sambil berjongkok menghadap Rustam) Tuan muda, coba Tuan lihat getah ini, sudah cukup baiknya untuk dibawa ke pabrik? (hlm. 123)
..........
(Ardi dan Basiran masuk dan berjongkok)
Rustam : Tidak! Jangan disitu, duduk di mari, di kursi ini. (menunjuk dua kursi tapi Ardi dan Basiran berjongkok juga).
Rustam : Berdiri dan duduk di kursi ini. Ayoh.
(Ardi dan Basiran berdiri perlahan-lahan dan menghampiri kursi yang ditunjukkan oleh Rustam)
Basiran : Biarkanlah kami berdiri saja. Tidak biasa kami duduk di kursi. (hlm. 124)

Dari cuplikan dialog dan teks samping diatas sudah jelas bahwa jikalau ingin memasuki ruang pribadi atau ruang majikan haruslah orang-orang yang memiliki kasta dan derajat yang sama dengan majikan. Namun jika ada orang yang berkasta rendah ingin masuk ruangan personal tersebut, maka dalam memasukinya harus menerapkan aturan-aturan seperti : berjalan sambil jongkok, duduk di bawah, dan cara bicara dan berperilakunya harus sopan dan halus. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pengarang sengaja mendominasikan ruang domestik sebagai latar tempat karena membatasi percakapan dan golongan yang masuk dalam ruang itu dan pengarang masih menerapkan adanya sistem kasta yang berpengaruh besar di segala aspek kehidupan tokoh dalam drama tersebut.

***
Berdasarkan analisis naskah drama “Gadis Modern” karya Adlin Affandi dapat disimpulkan bahwa drama yang berjenis komedi ringan tersebut mempunyai keunikan dalam segi aspek ruang, karena keseluruhan latar dalam drama ini didominasi oleh ruang-ruang domestik yang tergambar pada narasi awal di tiap-tiap babak. Hal ini dilakukan pengarang karena pengarang sengaja membatasi melebarnya pembicaraan, perilaku atau sikap, dan lain-lain serta membatasi orang-orang yang masuk dan berada pada ruang personal tersebut, sehingga tidak sembarang orang boleh memasukinya dan tidak sembarang pembahasan serta sikap boleh terjadi atau dibicarakan dalam ruang tersebut.
Adapun penyajian struktur latar atau setting oleh pengarang dalam drama “Gadis Modern” terfokus melalui tekstur drama yaitu, narasi, dialog, dan teks samping. Aspek tempat hanya digambarkan pada narasi awal naskah drama agar pembaca bisa mengetahui secara langsung tempat cerita tersebut dilakukan, pembaca juga bisa lebih mudah dalam memahami cerita dengan adanya penyajian aspek tempat hanya pada narasi awal karena tempat peristiwa tidak mungkin melebar. Latar waktu dalam drama ini tergambar dalam dialog antar tokoh, namun kurang begitu jelas dan detil. Hal ini dimungkinkan karena latar waktu dalam drama ini dianggap tidak berperan penting dalam keberhasilan jalannya cerita dan agar sutradara mampu mengeksplorasi lebih lanjut mengenai waktu cerita dalam pementasan drama “Gadis Modern” sehingga waktu drama ini bersifat fleksibel. Sedangkan latar suasana disajikan melalui dialog dan teks samping. Secara general, Penyajian suasana melalui teks samping agar pembaca dapat mengetahui secara langsung suasana hati dan perasaan tokoh sehingga terjadi kesalahan presepsi. Dan penyajihan melalui dialog mampu mengasah tingkat sensitivitas pembaca dan pemain drama untuk melakukan improvisasi dalam intonasi, jeda, nada, dan lain-lain.
Drama bukan hanya sekedar bacaan yang bersifat menghibur, akan tetapi di dalamnya juga mengandung nilai-nilai positif yang dapat mendidik dan menambah wawasan pembaca. Oleh karena itu penulis berharap masyarakat pembaca tidak hanya sekedar membaca ringan tetapi juga mampu menyelami makna-makna yang terkandung di dalam naskah drama, bahkan akan lebih baik pula apabila pembaca lebih teliti dan kritis dalam membaca drama, yaitu mengidentifikasi tekstur dan struktur serta permasalahan yang ada pada unsur-unsur tersebut, serta mampu menarik makna dan nilai-nilai dari keunikan struktur drama.
                                         

Contoh-contoh Teater Tradisional dan Modern
. - Pada waktu itu saya sempat memposting tentang Tokoh Terkenal Seniman Tari Indonesia . Sekarang saya akan sedikit memberikan contoh dari teater tradisional dan teater moder . Lalu apa itu teater . Teater adalah istilah lain dari drama, tetapi dalam pengertiannya yang lebih luas, teater adalah proses pemilihan teks atau naskah, penafiran, penggarapan, penyajian atau pementasan dan proses pemahaman atau penikmatan dari public atau audience (bisa pembaca, pendengar, penonton, pengamat, kritikus atau peneliti) . Teater di artikan dalam 2 arti dalam arti luas dan arti sempit
Teater dalam arti sempit = Sebagai drama ( Kisah hidup atau kehidupan manusia yang di ceritakan melalui pertunjukkan pentas ).
Teater dalam arti luas = Segala tontonan atau pertunjukkan yang di pertunjukkan di hadapan orang orang banyak .
Adapun unsur-unsur dalam teater meliputi :
1. Naskah atau Skenario
berisi kisah dengan nama tokoh dan dialog yang diucapkan dalam cerita tersebut .
2. Pemeran
3. Sutradara
Seseorang yang menjalankan atau memimpin jalanya produksi teater .
4. Properti
Sebuah perlengkapan yang di perlukan dalam pementasan teater . Seperti halnya meja,kursi dll.
5. Penataan
dalam unsur penataan ,penataan di bagi dalam 4 penataan antara lain tata rias , tata busana , tata lampu , tata suara .
baik kita ke Topik , saya akan memberikan contoh teater tradisional terlebih dahulu apa saja itu , simak di bawah ini :
1. Ketoprak
ketoprak merupakan seni teater yang di perkenalkan dari yogyakarta jawa tengah . Jenis teater yang ini adalah pentasan yang di selingi dengan lagu-lagu jawa dan di iringi dengan gamelan .
2. Ludruk
Kesenian yang berasal dari jawa timur . Ludruk merupakan suatu pertunjukkan yang oleh sebuah group kesenian dan dalam pertunjukkanya ludruk menceritakan tentang kehidupan rakyat ,cerita perjuangan yang di selingi dengan lawakan dan gamelan sebagai pengiringnya .
3. Wayang orang
cerita wayang purwo( wayang kulit) yang di panggungkan dengan pemeran orang dewasa yang di padukan dengan gerakan tari . Adapun sumber ceritanya dari Ramayana dan Mahabarata .
4. Reog
Seni tradisional dari jawa timur yaitu ponorogo , dalam seni reog ini , pementasan di lakukan atau di pertunjukkan di arena terbuka . Pemeran utamanya adalah orang berkepala singa dengan hiasan bulu merak . Dan di tambah penari bertopeng(pentholan) dan juga penari kuda lumping .
5. Lenong
Kesenian yang berasal dari orang betawi atau jakarta ini mempertunjukkan sandiwara dengan iringan gambang kromong dan menggunakan dialog betawi . Yang utama dari bagian lenong adalah silat ,tarian dan lawak .
6. Sendratari(Seni drama dan tari)
Kesenian yang bercerita tentang cerita wayang dan cerita legenda . Namun dalam pementasan ini hanya di sajikan dalam bentuk tarian tanpa adanya sebuah dialog . Dan di sini gamelan juga sebagai pengiring musiknya .
Di atas adalah contoh dari teater tradisional di negeri kita . Berikutnya kita ke teater modern . Teater modern merupakan pengaruh dari budaya asing . Hal ini merupakan alkulturasi ( pencampuran) budaya indonesia dan budaya asing yang berbeda sifatnya dengan budaya asli dari indonesia . Dan di bawah ini adalah conthoh dari teater modern :
1. Komedi stambul
disebut sebagai komedi stambul di karenakan ceritanya mengenai kejadian-kejadian di stambul dan konstaninopel , persia , arab , dan india . Cerita ceritanya di ambil dari kisah 1001 malam .
2. Komedi bangsawan
disebut komedi bangsawan karena ceritanya mengenai bangsawan yang berasal dari tana semenajung atau negeri jiran

Senin, 02 Maret 2015

Misteri Bangku Kereta Api Nomor 13

  

Perjalanan jauh dengan kereta merupakan sebuah perjalanan yang penuh dengan petualangan. Banyak hal yang bisa kita dapat dari perjalanan jauh ini. Seperti halnya kisah perjalananku selama dua hari satu malam dengan Kereta Bima, Jakarta-Surabaya. Perjalanan kali ini, seperti halnya perjalana-perjalanan sebelumnya, tak pernah kusia-siakan hanya dengan melihat-lihat pemandangan lewat jendela ataupun tertidur sepenjang perjalanan. Ada suatu hal yang biasa kulakukan untuk mengisi perjalanan dengan kereta api yaitu dengan “mengobrol”. Mengobrol merupakan cara yang ampuh untuk mengusir rasa bosan dan juga baik untuk kesehatan terutama otot-otot muka guna menjaga keremajaan kulit dan elastisitasnya. Mengobrol hanya membutuhkan sedikit energi dengan sedikit cemilan dan sebotol softdrink lengkap sudah fasilitas untuk memulai suatu obrolan.
Sudah tiga puluh menit berlalu semenjak aku terduduk sendiri di bangku nomor 14 gerbong ketiga. Kulihat bangku nomor 15 yang terletak disebelahku belum juga terisi penumpang dan juga bangku nomor 13 dan 12 yang terletak di hadapanku kosong sama sekali. “Kalo begini gimana aku bisa dapat teman ngobrol?”.
“Ting…teng…ting…teng…lima menit lagi Kereta Bima akan segera diberangkatkan”, begitu bunyi pengumuman dan petugas stasiun. Kereta mulai penuh oleh para penumpang. Semua bangku telah terisi kecuali tiga buah bangku yang ada di dekatku, tak juga ada yang menempati. Sudah empat puluh menit aku menunggu teman seperjalananku, namun mungkin takdir berkata lain. Di perjalanan kereta kali ini, mungkin akan kulewatkan dengan tidur atau melihat-lihat pemandangan saja.
“Huaaaah…!!”, suasana ini membuatku mengantuk, mataku mulai berkaca-kaca. Tak terasa aku pun terlelap untuk beberapa waktu. “Roooeng…!!!”, “Hah, bunyi apa itu…?”, aku tersentak, dan bangun dari tidurku. Oh rupanya bunyi yang melengking itu hanyalah bunyi pertanda kereta akan segera diberangkatkan. Kereta pun mulai berangkat. “Huaaah…!!”, lagi-lagi meliuk-liukkan tubuhku, mencoba melemaskan semua otot-otot yang tadi kaku karena kugunakan tidur dalam keadaan duduk. Kini ngantukku serasa hilang dalam sekejap oleh getaran-getaran berirama yang ditimbulkan oleh roda-roda kereta. Kuperhatikan sekelilingku, nampaknya bangku nomor 12 dan 13 yang ada dihadapanku serta bangku nomor 15 yang terletak di sampingku memang tak ada yang menempatinya. Atau memang tak ada yang mau mendudukinya? Ah masa bodoh…
Tiba-tiba seorang wanita muda dengan tergesa-gesa berjalan sambil menyeret sebuah koper yang tampaknya cukup berat menuju ke arahku. Dia tampaknya butuh pertolongan. Pak kondektur pun menghampirinya. “Anda butuh pertolongan Nyonya?”, tegurnya dengan sopan. “Iya Pak, tolong saya Pak!”, ujar nyonya itu dengan nada setengah panik. “Maaf nyonya, bisa tolong tunjukkan tiket anda?”, ujar sang kondektur. “Ini pak, saya duduk di bangku nomor 13”, jawabnya dengan nafas terengah-engah. “Oh bangku nomor 13 ada di sebelah sini nyonya. Silahkan, anda bisa duduk dan tenangkan diri anda terlebih dahulu”, ujarku memotong pembicaraan mereka.
“Pak kondektur..anak saya pak…anak saya hilang di kereta ini”, ujar nyonya itu yang tampaknya tak menghiraukan perkataanku.
Pak kondektur pun berkata lagi pada nyonya itu dengan lembut “Nyonya, anda bisa duduk dulu di bangku dan ceritakan semua kejadiannya pada kami.”
Mendengar hal itu kemudian si nyonya pun akhirnya duduk dan kemudian mulai mencoba menenangkan diri. Setelah merasa cukup tenang ia pun bercerita “Begini Pak Kondektur, aku naik ke kereta ini bersama anak laki-lakiku yang bernama Andi. Ketika kami tiba di stasiun, kereta hampir saja berangkat. Karena takut ketinggalan kereta aku pun menaikkan Andi terlebih dahulu kemudian aku turun lagi untuk membawa koper yang kutitipkan pada seorang penjual makanan yang menunggu di depan pintu masuk gerbong lima kereta ini. Sementara itu Andi ku suruh mencari tempat duduk nomor 13 dan 14 yang telah kami pesan. Saat itu para penumpang masuk secara berdesakkan, mungkin mereka juga tak ingin ketinggalan kereta. Bahkan ketika aku ingin masuk, hampir saja aku terdorong keluar oleh penumpang lain yang juga turut berdesak-desakkan. Dan sesampainya di dalam kereta aku mencari-cari Andi dan tidak menemukannya.”
“Oh begitu”, ujar kondektur manggut-manggut. “Ehm begini saja nyonya. Sekarang saya akan mencari anak nyonya dan nyonya silahkan tunggu di sini. Oh ya apakah nyonya yakin kalau anak nyonya sudah masuk ke dalam kereta ini?”, Tanya pak kondektur.
“Saya yakin pak. Anak saya tak mungkin keluar lagi, karena ketika kami masuk, para penumpang yang lain juga masuk bahkan hingga berdesak-desakkan sehingga tak mungkin ia bisa keluar.”, jelas nyonya itu.
“Oh ya, bagaimana ciri-ciri anak nyonya?”
“Hmm…anak saya memakai baju kemeja warna biru laut dan celana pendek warna hitam. Umurnya 10 tahun dan tingginya sekitar 150 cm. Ia berkaca mata dan rambutnya hitam lurus.”, jawab nyonya itu.
“Ya…cukup jelas, kami pasti menemukannya”, ujar sang kondektur meyakinkan nyonya itu.
Lima menit telah berlalu, namun si kondektur tadi tak juga kembali. Nyonya itu nampak masih gelisah sejak tadi, wajahnya memerah dipenuhi sejuta penyesalan.
“Maaf nyonya, mau permen?”, ujarku seraya menyodorkan lima bungkus permen cokelat yang tadi kubeli dari pedagang kaki lima.
“Hmm maaf…terima kasih”, ujarnya menolak.
“Tenang saja nyonya, tak perlu terlalu gelisah. Anak nyonya pasti ditemukan, mungkin saja dia tadi bingung dan tersesat di gerbong lain. Kereta ini kan hanya terdiri dari beberapa gerbong dan anak nyonya tak mungkin akan jauh-jauh pula dari sini’, ujarku mencoba menenangkannya.
“Oh ya, tujuan nyonya mau kemana?”
“Hmm….saya mau ke Surabaya, ke rumah kakak ipar saya untuk mengabarkan suatu hal”, jawab nyonya itu.
“Lalu suami anda…?”
“Dia baru saja wafat tiga hari yang lalu”
“Oh maaf nyonya…ehm saya turut berduka cita atas wafatnya suami nyonya.”
Waktu pun telah berlalu dua jam lamanya. Hari kini mulai beranjak sore, kereta api delapan gerbong yang kini kunaiki mulai menembus senja. Obrolanku dengan nyonya ini semakin menarik saja, dan nampaknya si nyonya mulai melupakan anaknya yang belum juga ditemukan.
Saat ini aku mulai tahu banyak tentang nyonya itu. Ternyata yang duduk di bangku nomor 12 adalah anaknya dan yang duduk di bangku nomor 15 yang ada disebelahku adalah suaminya yang kini telah wafat semenjak tiga hari yang lalu. Suaminya adalah seorang polisi lokal. Ia wafat karena tertembak ketika terjadi baku tembak dengan para perampok bank tiga hari yang lalu. Semula mereka bertiga memang hendak liburan ke rumah Nenek anak semata wayangnya di Surabaya. Kematian sang Ayah pada mulanya membuat rencana kepergian Si Nyonya dibatalkan. Namun karena si Nyonya kemudian mendapat kabar bahwa ibundanya di kampung halaman sedang sakit keras, dan dengan pertimbangan tiket yang sudah dipesan, jadilah mereka berdua memaksakan diri pergi ke Surabaya meskipun masih dalam suasana duka.
“Maaf nyonya apa makanan favoritmu?”, tanyaku.
“Hm…aku amat menyukai cokelat, suamiku dan anakku juga menyukainya. Cokelat sudah lama menjadi makanan favorit keluarga kami.”, jawabnya. “Kalau anda Tuan?”
“Hmm…aku juga suka cokelat, tapi terkadang aku juga suka permen dan juga kembang gula. Pokoknya semua makanan yang manis-manis aku menyukainya.”, jawabku.
Tiba-tiba si nyonya itu mengeluarkan sebuah kotak dari tas kecil yang diipangkunya. Dan ia membuka kotak itu. Ternyata isinya adalah cokelat.
“Anda mau cokelat, Tuan?”, ujarnya seraya menyodorkan kotak itu ke arahku.
Aku pun mengambil tiga bungkus cokelat dari kotak itu. “Hmm…terima kasih nyonya.”, ucapku seraya menaruh dua bungkus cokelat ke dalam saku kemejaku. Sementara yang sebungkus lagi kubuka dan kumasukkan ke dalam mulutku.
“Bagaimana rasanya, Tuan?”, Tanya nyonya itu.
“Hmm…sangat enak.”, jaawabku.
Nyonya itu cukup menarik untuk dijadikan teman ngobrol. Setelah sekian lama mengobrol tampaknya aku mulai suka padanya. Wanita itu lumayan cantik, wajahnya sangat ayu dengan bibirnya yang manis. Matanya juga indah. Rambutnya tergerai lurus sepinggang. Lama-lama aku merasa tertarik kepadanya. Hatiku mulai bertanya-tanya “Apakah aku telah jatuh cinta?’
Dalam sekejap kami menjadi lebih akrab. Rupanya si nyonya itu juga suka mengobrol sepertiku. Kami pun melanjutkan obrolan kami hingga lupa waktu.
Sejam kemudian. Pak kondektur datang mengantarkan seorang anak berambut lurus dan berkaca mata. “Oh anakku!”, si nyonya sejenak tersentak melihat anaknya, lalu memeluknya sambil menetesakan air mata. Ia baru ingat bahwa anaknya telah hilang di kereta beberapa jam yang lalu. Dengan perasaan bersalah ia pun memeluk anaknya erat-erat sambil menangis.
Aku dan pak kondektur hanya bisa memandang kedua anak dan ibu itu sambil tersenyum lega. Setelah itu si nyonya itu pun kemudian berterima kasih kepada pak kondektur.
“Maaf nyonya kami terlalu lama menemukan anak anda. Tampaknya anak anda tersesat di kereta ini dan kelelahan, lalu ia pun tertidur di dekat tumpukkan barang di pojok gerbong delapan. Tadinya kami tak mengira anak itu bersembunyi di sana. Namun, setelah kami berpikir bahwa tak ada salahnya memeriksa tumpukkan barang kami pun memeriksanya dan berhasil menemukan anak nyonya ini.”, jelas pak kondektur.
‘Tak apa-apa pak kondektur, yang penting saat ini anakku sudah di temukan. Terima kasih….pak…saya ucapkan beribu-ribu terima kasih.”, ujar nyonya itu.
“Tak apa nyonya, itu memang sudah tugas kami.”, ujar pak kondektur.
Tak lama kemudian suasana pun kembali tenang. Sang anak sudah duduk di bangkunya dan si nyonya kembali melanjutkan obrolannya denganku. Kami pun mengobrol cukup lama dan kuperhatikan, selama kami mengobrol, anak nyonya itu menatapku tajam ke arahku. Aku jadi sedikit salah tingkah.
Anak nyonya itu tampaknya tak suka kepadaku. Ia lalu menarik-narik ibunya dan membisikkan sesuatu ke telinga ibunya. Si nyonya manggut-manggut lalu berbicara lirih kepadaku “Tampaknya anakku tidak terlalu menyukaimu, maaf ya, harap di maklumi karena anakku baru saja kehilangan ayahnya. Jadi, ia tak begitu suka kalau ada lelaki lain yang mendekatiku.”
Aku pun manggut-manggut seraya mengerti apa yang dimaksud si nyonya itu. Aku pun bisa memahami perasaan mereka. “Hmmm….baiklah kalau begitu aku mohon diri sejenak, rasanya ingin aku berjalan-jalan ke gerbong lain. Lagi pula kakiku rasanya mulai kesemutan semenjak tadi duduk di bangku.”, ujarku pamit untuk pergi sejenak.
Sambil berjalan santai aku pun menelusuri gerbong-gerbong kereta sampai di ujung gerbong ke delapan yang terletak paling ujung, aku duduk di sebuah bangku kosong yang terletak di depan bagasi tempat barang-barang. Bangku-bangku di gerbong delapan nampaknya banyak yang kosong. Aku kemudian menatap keluar jendela sambil memandang bulan purnama yang membumbung tinggi di luar sana.
Tak terasa tiga puluh menit berlalu dengan cepatnya. Aku bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju bangku nomor 14, tempat dudukku yang semula, “Mungkin si anak tadi sudah lelap tertidur dan aku pun bisa ngobrol lagi dengan si nyonya tadi.”, pikirku.
Namun, sesampainya di bangkuku, yang ada hanya anak tadi yang masih terjaga. Kemudian aku pun duduk, dan memberanikan diri bertanya kepada anak itu. “Nak, dimana ibumu?”
“Mau apa kamu mencari-cari ibuku! Lagi pula apa urusanmu menanyakan dimana ia berada, toh kamu kan bukan ayahku!”, ucapnya kasar.
Hatiku bergetar mendengar perkataan anak kecil itu, sesaat aku menganggap anak ini kurang ajar, tapi mungkin ada benarnya juga. Walaupun aku suka kepada ibunya tapi kan ia sudah berkeluarga dan sulit bagi sebuah keluarga untuk dengan mudah kehilangan salah satu anggota keluarga yang dicintainya maupun dimasuki oleh orang yang baru mereka kenal. Aku dan anak itu pun terdiam beberapa lama kemudian anak itu tertidur pulas. Aku pun mulai mengantuk karena semenjak tadi hanya diam mengunci mulut. Akhirnya aku pun memejamkan mata dan tertidur pulas.
Beberapa saat kemudian terdengar lagi olehku deru roda-roda kereta yang berirama. Aku pun mulai membuka mataku lagi. Namun, kini di hadapanku duduk seorang pria gagah yang mengenakan sebuah kemeja putih dan bercelana cokelat. Rambutnya tampak klimis dan dia juga tampak lebih arif dengan kacamatanya. Aku mulai bingung, bukankah yang tadi duduk di hadapanku ini seorang nyonya dan anaknya. “Ah mungkin saja aku sedang bermimpi.”, batinku.
Aku pun berkenalan dengan pria itu, namanya Andi. Persis seperti nama anak kecil yang kutemui dalam mimpiku tadi. Dan kami pun mengobrol tentang segala hal. Andi mulai terbawa pembicaraan. Begitu pula denganku. Kami saling berbagi pengalaman, berbagi cerita dan juga berbagi alamat dan nomor telepon.
“Oh ya, Tuan. Maukah engkau kuceritakan sebuah kisah menarik saat aku berumur 10 tahun?”, Tanya Andi. “Oh tentu saja.”, jawabku. “Baiklah, akan kuceritakan.”, Andi pun bercerita tentang pengalamannya ketika ia berusia 10 tahun. Ketika itu ia tersesat di gerbong kereta dan tidur di bagasi barang. Dan saat ditemukan dan di bawa oleh kondektur menemui ibunya, ia mendapati ibunya sedang asyik mengobrol dengan seorang pria yang tak ia kenal dan ia pun akhirnya merasa cemburu karena belum lama ayahnya meninggal. Ia tak ingin punya ayah yang baru karena ia amat mencintai ayahnya. Andi menyuruh ibunya agar berhenti ngobrol dengan lelaki itu dan menyuruhnya pergi. Lalu sesudah lelaki itu pergi, Andi bertengkar dengan ibunya sehingga ibunya kesal dan akhirnya pergi untuk pindah gerbong. Ketika ibunya telah pergi, lelaki yang semenjak tadi mengobrol dengan ibunya datang kembali dan menanyakan tentang keberadaan ibunya. Adi menjawab dengan nada ketus “Mau apa kamu mencari-cari ibuku! Lagi pula apa urusanmu menanyakan di mana ia berada, toh kamu kan bukan ayahku!”
“Aku merasa bersalah dengan perbuatanku terhadap lelaki itu dan ingin rasanya aku memohon maaf atas sikap kasarku dulu kepadanya.”, Andi menutup ceritanya.
“Lalu dimana ibumu saat ini?”, tanyaku.
“Ibuku pindah gerbong dan ternyata ia pindah ke gerbong belakang. Beberapa saat setelah aku tertidur aku merasa aneh dan beranjak dari tempat dudukku. Tiba-tiba terjadi tabrakan antara kereta yang kutumpangi dengan kereta lain. Saat itu aku berada di gerbong tiga dan selamat sedangkan ibuku rupanya tewas karena ia pindah ke gerbong belakang yang hancur akibat tabrakan itu. Aku amat menyesal seandainya saja aku membiarkan ibuku tetap mengobrol dengan pria itu mungkin ibuku tak akan pindah gerbong dan menyusul ayahku ke alam baka.”, Andi menjelaskan panjang lebar untuk kesekian kalinya.
“Oh, aku turut bersedih atas pengalamanmu yang amat menyedihkan.”, ujarku bersimpati. Dalam hati aku berfikir mungkinkah aku melenggang ke masa lalu selama aku tertidur, ataukah mimpi itu hanya kebetulan saja.
“Hmm…boleh aku tanya sesuatu?”, tanyaku.
“Oh ya, silahkan.”, jawab Andi.
“Hmm…aku ingin tahu, saat kau terbangun….sebelum kecelakaan itu..kau tahu dimana pria yang duduk dihadapanmu?”, tanyaku lagi.
“Kurasa ia pergi ke gerbong lain saat aku tertidur, yang jelas aku tidak menemukannya saat aku terbangun.”
Seribu satu tanda tanya mulai memusar di dadaku. Apakah benar pria yang ada di masa lalu itu adalah aku? Sesaat aku masih ingat senyuman nyonya yang tadi duduk di bangku nomor 13 dan mengobrol denganku sambil menunggu anaknya ditemukan hatiku mulai gundah, tak mungkin ini suatu kebetulan…tapi bagaimana bisa?
“Maaf, Tuan. Apa kau suka berjalan-jalan dengan kereta?”, Andi tiba-tiba memotong lamunanku.
“Oh…eh…iya…tentu saja…”, jawabku gugup.
“Selama hidupku aku merasa dihantui perasaan bersalah terhadap pria yang kucaci maki 10 tahun lalu. Setiap aku bepergian naik kereta aku selalu memesan bangku nomor 13 tempat dahulu ibuku duduk sebelum ia pergi untuk selama-lamanya. Dan aku juga selalu menceritakan kisah ini kepada setiap orang yang duduk di bangku nomor 12, 14 dan 15. aku juga selalu berpesan kepada semua orang yang kuceritakan tentang kisah ini untuk menyampaikan permohonan maafku yang sebesar-besarnya untuk pria yang 10 tahun lalu kucaci maki. Ibu dan ayahku di sana pasti tak suka memaafkanku jikalau permohonan maaf ini tak sampai kepada pria itu. Maukah Tuan membantuku?”, pinta Andi.
“Baiklah aku akan membantumu. Dan aku yakin pria itu pasti sudah memaafkanmu, karena dulu umurmu kan masih 10 tahun.”, ujarku menghibur Andi.
“Saat ini pasti pria itu sudah berumur sekitar 40 tahun dan mungkin dia sudah punya istri dan anak.”, ujar Andi.
Kereta pun terus melaju, hingga akhirnya tiba di kota Surabaya. Aku dan Andi pun turun di salah satu stasiun di Kota Pahlawan itu. Dari sana kami berpisah menuju ke tempat tujuan kami masing-masing. Walaupun kami sudah berpisah masih saja aku memikirkan serentetan peristiwa yang kutemui di kereta tadi. Semenjak saat itu aku pun mulai berjanji, aku tak akan banyak ngobrol selama perjalanan dengan kereta. Aku juga nggak bakal lagi-lagi tertidur di bangku kereta. Mungkin aku bisa mengusir kebosanan dalam perjalanan dengan membaca-baca buku sambil minum kopi, atau melihat-lihat pemandangan sepanjang perjalanan.
Tapi “Ops…!”, tak kusadari kedua ikatan tali sepatuku terlepas, aku pun berjongkok untuk menalikannya kembali. Namun saat aku berjongkok, “Pluk…!!”, dua bungkus cokelat jatuh dari sakuku. Aku mulai berfikir dari mana cokelat-cokelat ini, aku merasa tak pernah membeli cokelat sepanjang perjalanan. “Ah….aneh-aneh saja yang terjadi hari ini.”